Menuju terapi kanker masa depan: Autologous immune enhanced therapy


Rehat sejenak dari tugas bikin skenario… Tiba-tiba ingin share tentang si favorit saya yang juga sekaligus ‘mantan’ musuh saya: imunologi & kanker. Dulu benci, sekarang cinta. Jadi betul juga yah apa kata orang, “janganlah terlalu membenci sesuatu, suatu saat akan berbalik jadi cinta”. Hahahaha, iki opo toh, jadi ga fokus.

Back to the topic, so actually, yang ingin saya share adalah sebagian oleh-oleh dari seminar kalbe gratis yang bertopik Cancer immunology and immunotherapy yang bertempat di FKUI Salemba.

seminar kalbeKenapa sih, pengetahuan tentang kanker ini penting dan harus aware dengannya? Kalau mau dirunut secara statistik, ternyata kanker merupakan si ‘culprit‘ utama yang ada dibalik angka kematian di seluruh dunia. GLOBOCAN sendiri memperkirakan bahwa sekitar 14,1 juta orang didiagnosis sebagai penderita kanker (kasus baru) setiap tahunnya. Jangankan di dunia, di Indonesia sendiri pada tahun 2012 terdapat kurang lebih 299 ribu kasus dengan angka kematian yang tinggi, yaitu sekitar 190 ribu. Dan jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan makin banyaknya paparan terhadap zat-zat karsinogenik, baik secara sadar maupun tidak.

Bertambahnya penderita kanker ini belum diimbangi dengan kehadiran terapi kanker yang efektif dan mampu mengatasi kanker secara kausatif. Terutama di Indonesia sendiri, terapi kanker konvensional yang tersedia saat ini berupa kemoterapi, operasi, dan radioterapi. Di mana tujuan dari terapi ini adalah untuk menimbulkan kerusakan dan membunuh sel yang terus-menerus bereplikasi dengan cepat, yang merupakan salah satu ciri dari sel kanker.Yang menjadi masalah adalah bahwa sel-sel sehat yang juga terus bereplikasi seperti sel punca darah dan sel sperma di testis juga dapat menjadi sasaran. Hal ini membuat banyak pasien kanker meninggal bukan karena tumornya tetapi karena efek samping dari pengobatan yang diterimanya.

Hal tersebut di atas menjadi tantangan utama dalam menemukan pengobatan kanker yang efektif dan efisien: yaitu bagaimana caranya agar terapi yang ada dapat dirancang sedemikian rupa supaya selektif dan spesifik hanya terhadap sel kanker dan tidak mengganggu sel-sel sehat lainnya. Tantangan selanjutnya adalah menemukan terapi yang dapat mencegah terjadinya rekurensi kanker dan mencegah metastasis pada kanker.

Untuk mengatasi permasalahan yang ditemui dalam terapi kanker tersebut, para ilmuwan mengembangkan suatu terapi yang spesifik dengan memanfaatkan sistem imun (kekebalan tubuh). Permasalahan dalam respon imun terhadap kanker adalah, bahwa sel kanker mampu bertahan dengan mekanisme yang bervariasi agar tidak dikenali oleh sistem imun sehingga menghasilkan pertumbuhan tumor yang tak terkendali. Induksi imunitas sel T yang produktif memerlukan penyajian antigen peptida yang efisien oleh antigen presenting cells (APCs) yang dapat mengenali sel kanker. Oleh sebab itu, komponen sistem imun seperti sel T telah dimanfaatkan untuk pengembangan terapi kanker yang berdasarkan pada sistem imun (imunoterapi).

Bidang imunoterapi terhadap kanker memiliki sejarah yang panjang dan kompleks. Cara paling sederhana memanfaatkan sistem imun untuk melawan kanker adalah dengan memberikan dosis tambahan zat yang dapat merangsang sistem imun bersamaan dengan terapi konvensional. Imunoterapi lainnya yang dikembangkan adalah imunoterapi pasif dengan penggunaan antibodi monoklonal. Selanjutnya terapi sel untuk kanker makin dikembangkan dengan penggunaan donor limfosit dari orang yang sehat kepada pasien kanker yang dikenal sebagai donor lymphocyte infusion (DLI). Limfosit yang diambil dari orang sehat ini kemudian diaktifkan dengan stimulator tertentu secara ex vivo kemudian ditransfusikan kepada pasien kanker. Namun kelemahan dari metode ini adalah, adanya penolakan dari sistem imun resipien terhadap limfosit yang didonorkan dalam beberapa waktu setelah prosedur dilakukan. Pada awalnya limfosit donor tersebut bertahan dan mampu melawan sel-sel kanker dalam tubuh resipien, namun kemudian akan dihancurkan oleh sel-sel imun resipien tersebut.

Untuk mengatasi tantangan penolakan dari tubuh resipien (pasien kanker) tersebut, saat ini para ilmuwan juga mengembangkan suatu terapi yang spesifik dengan memanfaatkan sistem imun dari si pasien sendiri yang dikenal sebagai autologous immune enhanced therapy (AIET).

AIET 4 steps GMDAIET merupakan suatu metode pengobatan di mana sel-sel imun diambil dari tubuh pasien, yang kemudian dikultur dan diproses untuk mengaktivasi sel-sel tersebut sehingga mampu melawan sel-sel kanker. Selanjutnya sel-sel yang telah diperkuat tersebut dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien, di antaranya dengan cara transfusi. Sel-sel imun spesifik yang saat ini banyak diteliti untuk melawan kanker adalah sel natural killer (NK) dan limfosit T terutama cytotoxic T lymphocyte (CTL). Pengembangan riset terapi kanker dengan material imunologik ini telah ada sejak akhir tahun 80-an dan dipraktekan sejak awal 90-an dalam uji klinis acak terhadap kanker paru, kanker lambung, kanker ovarium, kanker hati, kanker pankreas, kanker leher rahim, acute myeloid leukemia (AML), acute lymphoblastic leukemia (ALL). Bahkan pada tahun 2010, Food and Drug Administration (FDA) sudah menyetujui sipuleucel-T (PROVENGE™) sebagai imunoterapi sel autologous untuk mengobati kanker prostat yang telah mengalami metastasis dan resisten terhadap pengobatan hormon standar.

-Semoga bermanfaat-

Bibliografi:

American Medical Association, 2010. Medical policy: Autologous Cellular Immunotherapy for the Treatment of Prostate Cancer. Anthem, 2014, pp.26–28.

Baratawidjaja, K.G., 2011. Imunologi Dasar 11th ed., Jakarta: Fakultas Kedokteran Universtas Indonesia.

Duong, C.P.M. et al., 2015. Cancer immunotherapy utilizing gene-modified T cells: From the bench to the clinic. Molecular Immunology, Article In press.

Ferlay, J. et al., 2013. Cancer incidence and mortality worldwide: IARC CancerBase No. 11. International Agency for Research on Cancer. Available at: http://globocan.iarc.fr [Accessed April 18, 2015].

Jemal, A. et al., 2011. Global cancer statistics. CA Cancer J Clin, 61, pp.69–90. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&dopt=Citation&list_uids=10200776.

Manjunath, S.R. et al., 2012. Autologous Immune Enhancement Therapy in Recurrent Ovarian Cancer with Metastases : A Case Report. KARGER, 5, pp.114–118.

Slavin, S., 2001. Immunotherapy of cancer with alloreactive lymphocytes. Lancet Oncology, 2(8), pp.491–498.

Subramani, B. et al., 2013. Autologous immune enhancement therapy : A case report of a stage IV colonic cancer. Oncology Letters, 5, pp.1611–1614.

Terunuma, H. et al., 2013. NK cell-based autologous immune enhancement therapy ( AIET ) for cancer. Journal of Stem Cells and Regenerative Medicine, 9(1), pp.9–13.

Wayteck, L. et al., 2014. A personalized view on cancer immunotherapy. Cancer Letters, 352(1), pp.113–125

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s