Hidup bersama, cegah (penyakit) bersama


Kasus pemidanaan dokter, RS, dan nakes yang dianggap ‘menolak’ pasien dengan alasan apapun mungkin sudah sering didengar oleh sebagian besar dari pembaca sekalian. Adanya berbagai jaminan kesehatan/ asuransi kesehatan pemerintah yang katanya akan ‘menanggung’ biaya pasien (rawat inap) mengakibatkan berbagai hal diantaranya peningkatan jumlah pasien yang datang berobat yang seringkali melebihi kapasitas RS/nakes. Sakit ini minta rawat, sakit itu minta rujuk supaya dapat memanfaatkan jaminan2 kesehatan yg digembar-gemborkan, padahal mungkin sebagian di antaranya tidak memenuhi indikasi rawat inap.

Saya setuju dengan prinsip jaminan kesehatan yang diterapkan pemerintah, tapi kecewa dengan penerapan pada realitasnya. Pertama karena pemerintah sendiri belum mempersiapkan dengan sebaik-baiknya sistem untuk mendukung kebijakan yang telah dibuatnya. Hutang pemerintah terhadap RS-RS banyak yang belum terbayar, dukungan fasilitas kesehatan masih kurang, dsb. Lantas bagaimana suatu layanan kesehatan bisa beroperasi dengan baik? Dari mana uang untuk pengadaan obat-obatan bagi pasien, alat-alat dan fasilitas yang dibutuhkan,,, apakah turun begitu saja dari langit ketujuh?

Selain itu SDMnya juga harus cukup untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi pasien. Berdasarkan data profil kesehatan indonesia th 2013, bahwa hingga tahun 2013, SDM kesehatan (dokter umum, dokter gigi, dr spesialis, perawat, bidan, dan lain-lain) di  seluruh provinsi di Indonesia hanyalah berjumlah 877.088 orang. Bandingkan dengan jumlah penduduk seluruh indonesia yang jumlahnya sekitar 250 juta jiwa. Memang tentu saja tidak semua masyarakat sakit pada waktu yang bersamaan tapi tetap saja angka tersebut besar, apalagi ditambah dengan belum meratanya SDM dan juga layanan kesehatan di semua daerah.

Kedua, karena pola pikir sebagian besar masyarakat kita masih terpaku pada berobat, penyembuhan penyakit, kuratif. Bukan pencegahan terjadinya penyakit. Dan jaminan kesehatan yang ada saat ini membuat masyarakat semakin bergantung pada kuratif, mengesampingkan preventif yang wajarnya bisa dan lebih mudah dilakukan.  Mungkin akan ada yang protes, “Kata siapa Tya? Jangan asal ngomong, sekarang kan masyarakat sudah pintar”. Hmm, teorinya mungkin masyarakat semakin pintar dengan makin majunya perkembangan teknologi yang memudahkan akses terhadap informasi kesehatan. Tapi, apakah itu tercermin dari perilaku sehari-hari?

Picture1
Cobalah lihat di jalan-jalan yang kita lalui pada saat pulang pergi dari rumah ke sekolah/kantor, berapa kali kita jumpai  tumpukan sampah yang dibuang tidak pada tempatnya? Mobil-mobil mulai dari kijang pick-up butut hingga sedan BMW mewah, berapa kali terlihat seenaknya buang sampah melalui jendela mobilny? Tanpa benar-benar menyadari dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berapa orang yang kita jumpai membuang ludah sembarangan, cuih sana, cuih sini, padahal banyak penyakit infeksi yang bisa ditularkan melaluinya? Berapa kali dalam sehari kita ‘terpaksa’ menjadi perokok pasif, berhadapan dengan asap rokok bahkan di tempat-tempat yang jelas-jelas dipasang larangan merokok?

Dihukum-karena-MeludahPadahal 3 penyakit teratas penyebab kematian di indonesia pada tahun 2010 adalah penyakit-penyakit infeksi: no. 1 adalah diare, disusul oleh DBD, dan kemudian tifoid. Padahal dalam 10 besar penyakit penyebab pasien rawat inap dan rawat jalan diantaranya adalah penyakit-penyakt infeksi yang sebelumnya disebutkan, ispa, hipertensi, TB, DM, dll. Di mana dalam patofisiologi (mekanisme terjadinya) penyakit tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku hidup masyarakat itu sendiri, yang amat sangat dapat dicegah melalui upaya preventif yang pastinya lebih sedikit memakan biaya ketimbang kuratif. Jadi bisa dilihat bahwa banyak pasien yang sakit karena memang dia sendiri yang ‘berkehendak’ untuk sakit, baik disadari maupun tidak. Lalu mengapa tidak menerapkan pula aturan tegas bagi masyarakat untuk mencegahnya berperilaku yang membuat dirinya sendiri sakit? Mengapa hanya ada aturan tegas bagi dokter/RS/nakes yang kadang tidak sanggup lagi dan bukan tidak mau menangani pasien-pasien tersebut? Kalau begini jadi timbul keinginan untuk teriak, “nakes juga manusia…!! Bisa lelah, sangat punya keterbatasan, ada banyak kekurangan….”

Picture jml penduduk miskinOleh sebab itu, kita semua sebagai komponen masyarakat indonesia baik pasien, nakes, pemerintah, kudu wajib kerja sama untuk memajukan kesehatan indonesia tercinta. Tidak bisa hanya dengan memidana, tidak akan selesai kalau main tuding menyalahkan. Sebagai informasi untuk teman-teman sadari, dari jumlah penduduk indonesia, yang terbanyak adalah penduduk usia produktif (66% dari total penduduk), selain itu dari segi ekonomi negara kita tumbuh dengan baik dan angka penduduk miskin mengalami penurunan setiap tahunnya. Maka potensi untuk membangun indonesia sehat akan lebih besar lagi bila semua pihak bekerja sama, terutama dalam upaya pencegahan penyakit yang jauh lebih penting dibandingkan kuratif.

 

-selasa siang kepanasan-5/8/14

Sumber: profil kesehatan indonesia th 2010, 2011, 2012, 2013

4 thoughts on “Hidup bersama, cegah (penyakit) bersama

  1. Gagasan yg menarik, sejauh ini ketika berinteraksi dg advokasi di bidang kesehatan selama 2 tahun terakhir, kesalahan memang bukan hanya di nakes, hal ini karena tetralogi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif belum berjalan dg optimal, masih perlu kerja keras nakes dan masyarakat utk mewujudkan indonesia sehat

    • thx ut masukanny. iy memang dari tetralogi itu timpang yg ditekankan o/ msyarakat kebanyakan cuma kuratif,,dan butuh kerjasama semua pihak ut merubah pola pikir tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s