Bukan pembunuh…


Tanpa hukuman penjara, serapah keluarga pasien, atau tuduhan membunuh pun, setiap dokter yang menangani pasien dan kemudian pasiennya meninggal, sudah pasti akan menanggung hukuman teramat berat dari dirinya sendiri.
Menyalahkan diri, trauma psikis, terbentuk lubang besar dalam nurani yang akan selamanya ada, nightmare bermalam-malam…

Kami bukan pembunuh…

Tanpa dihujani ancaman atau intaian para ‘pemangsa’ ahli hukum pun, semua dokter setiap kali memeriksa, mendiagnosis, mengambil tindakan atau memberi terapi pada pasien, sudah pasti memiliki rasa was-was, takut dan khawatir demi pasien.
Benarkah yang dilakukan? Tepatkah diagnosis yang ditegakkan? Sesuai prosedurkah tindakan dan terapi yang diberikan? Adakah yang terlupakan?…

Kami bukan pembunuh…

Tanpa disuguhi lirikan sinis ataupun opini miring masyarakat mengenai dokter tak berhati nurani dan tak menghargai nyawa pasien, setiap dokter sudah pasti telah mengucapkan, terikat, dan terbebani oleh sumpahnya, hingga ke akhirat. Sumpah yang mana tiap-tiap poin yang terkandung di dalamnya memiliki beban jauh melebihi sumpah dalam pengadilan, sumpah pocong, ataupun sumpah-sumpah lainnya.
Siapalah yang lebih memahami keberhargaan nyawa seseorang selain mereka yang pekerjaannya berkarib dengan kematian…

Sekali lagi, kami bukanlah pembunuh!!!

dokter, keadilanTanpa itu semua, saya sendiri sudah selalu takut dalam menjalani profesi saya. Kini, saya jauh jauh jauh lebih takut. Seperti pemain sepak bola yang menggantung sepatunya saat pensiun, berkali-kali sudah terlintas dalam benak untuk menggantung jas putih dan stetoskop, keluar dari profesi saya. Dan saya yakin, tidak sedikit sejawat saya yang juga berpikiran sama.

Saya teringat saat dahulu, di TK dan SD, saat anak-anak ditanya, “Kalau sudah besar ingin jadi apa?”
Tak sedikit dari mereka yang dengan ringan menjawab, “Dokter.”
Bahkan saya masih ingat syair sebuah lagu yang dibawakan Susan dan Ria Enes di masa kanak-kanak saya, “Susan, Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa?” Betul, jawaban “Aku kepingin pinter biar jadi dokter…”, adalah salah satunya.
Bagaimana sekarang? Sekarang? Jika kelak saya punya anak, dan jika anak saya menjawab dengan jawaban yang sama, disamping semua kebaikan dan sisi-sisi positifnya, akan saya ceritakan pula “dongeng pengantar tidur” mengenai sulit, berat, dan menakutkannya profesi dokter. Akan saya sarankan padanya untuk tidak menjadi dokter. Juga akan saya minta untuk berpikir ulang minimal seribu kali lagi untuk menjadi dokter.

–Hari ini, ada demo dan aksi mogok dokter-dokter di Indonesia. Saya menulis ini, bukan karena mendukung ataupun tidak mendukung, bukan untuk menyatakan solider ataupun tidak, tapi hanya mengungkapkan uneg-uneg dan ketakutan saya sebagai salah seorang dokter, tepatnya dokter Indonesia–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s