Mendadak dangdut, eh, syiar


“Jadi siapa Tuhan kamu?”, sontak pertanyaan itu membuat semua kepala di ruangan berpaling kepada saya.

Ceritanya  siang tadi, saya ikut berkumpul bersama di ruang ngopi (salle de café) laboratorium. Rutinitas yang saya perhatikan ada di sini adalah, kebiasaan “ngopii” sejenak di pagi hari antara pukul 9 hingga 10 dan di siang hari setelah makan siang antara pukul 14 hingga 15. Yang disebut ngopi sebenarnya bukan hanya kopi, karena istilahnya di sini disebut “prendre quelque chose”, yang berarti minum atau makan sesuatu (cemilan misal cookies), jadi minumnya bisa berupa teh, jus, dan bahkan air putih.

Pada kesempatan tersebut biasanya para ‘warga’ lab biasa berkumpul dan saling mengobrol. Saya sendiri tidak selalu ikut dalam rutinitas tersebut. Selain karena tidak terlalu suka dengan kopi dan tidak ingin memperparah kebiasaan ngemil (karena biasanya sering ada kue atau cemilan di sana), juga sebenarnya karena masalah bahasa yang masih saja menjadi sandungan dalam berkomunikasi di sini. Namun bukan berarti saya mengasingkan diri loh, hanya saja daripada berkumpul ramai-ramai yang ujungnya saya tak bisa mengerti karena ada begitu banyak orang berbicara bersamaan, saya lebih memilih beberapa kali secara tersendiri mengajak ngobrol orang-orang di lab satu per satu.

Jadi kembali pada cerita, siang tadi saya ikut berkumpul bersama mereka karena salah satu teman magang saya ada yang membawa cookies dan meminta semua orang mencicipinya. Kemudian ia teringat kalau hari ini adalah hari kamis dan biasanya kalau diajak “ngopi” pada hari senin atau kamis saya menolaknya dengan alasan puasa. Maka saat kali ini saya tidak menolak dan ikut dengan yang lain mencicipi cookies sambil mengobrol di sana, ia pun bertanya, “kamu tidak puasa hari ini?”

puasa-di-eropa-lebih-dari-12-jam-460x250“Ehm…”, sambil berusaha mencari kata-kata saya mengandaikan dalam hati, kalau saja saya di Indonesia, dengan mudah saya tinggal bilang, “lagi dapet”.

Berkali-kali menjelaskan bahwa karena ‘period’ saya tidak bisa puasa, namun ia tetap tak mengerti. Dan si temanku ini mengulangi, “Sebentar, jadi minggu kemarin kamu puasa, senin sama kamis, minggu ini karena period kamu tidak puasa? Mengapa…?”. Lalu sebelum saya sempat menjawab, tiba-tiba orang-orang di sekeliling yang ternyata sudah ikut mendengarkan, mereka serempak bertanya,

“Lho, apakah sekarang Ramadhan?”

“Bukankah Ramadhan itu nanti saat musim panas? Kamu puasa apa sekarang?”

“Puasa itu bagimu apa? Bagaimana kamu melakukannya? Kalau bagi kami umat Christian, puasa itu masih boleh makan yang ringan dan bukan daging, juga boleh minum supaya tidak dehidrasi”

“Puasa yang kamu lakukan yang merupakan kebiasaan para muslim bukan?”

“Kamu sama sekali tidak makan? Tidak minum? C’est pas possible!!

“Iya coba jelaskan pada kami, apa yang dimaksud puasa bagi kalian para muslim?”

“Kamu akan berpuasa pada Ramadhan nanti? Itu kan musim panas? Kamu yakin? Itu aneh!”

“Tunggu, bagaimana kalau dehidrasi? 30 hari kamu puasa setiap hari? Oh, mon Dieu!!!”

Dan pertanyaan paling mengagetkan adalah, “Sebentar, jadi siapa Tuhan kamu?”. Dan seketika semua kepala di ruangan berpaling pada saya siang hari tadi.

allah-is-my-god-islam-is-my-religion-muhammad-is-my-prophet-quran-is-my-book-ka-abah-is-my-qiblaSungguh, saya keteteran menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Satu yang dapat paling tegas saya jawab, “Tuhan saya Allah” (saya mengucapkannya sebagai Alloh). Dan di antara mereka ada yang berpendapat, “Lho kan sama, Allah kan?” (Dia membaca Allah), “bukankah sama, tapi kenapa peraturan kalian susah sekali?”. Dalam hati, aduh mati gue gimana jelasin semua ini???

Memang, salah satu kesulitan yang kami hadapi di sini adalah seputar identitas agama kami, hukum-hukumnya, dan apa yang kami lakukan dalam agama kami. Betapa sulitnya menjelaskan kepada mereka mengenai itu semua. Sholat, berpuasa, menolak cipika-cipiki dengan lawan jenis yang bukan muhrim, berjilbab bagi wanita, makanan halal dan haram, dan sebagainya. Mereka sulit menerima tentang itu semua karena mereka berpikir semuanya itu adalah hal yang berat dan tak mungkin mereka lakukan. Bagi mereka menjadi muslim itu sulit, banyak peraturan yang harus ditaati dan banyak ibadah yang berat, dan hal-hal lain seperti itu.

Selama 9 bulan di sini, sudah banyak dan seringkali saya, kami, mendapat pertanyaan-pertanyaan mulai dari hal, “Mengapa kamu memakai jilbab? Mengapa harus? Aurat maksudnya apa? Kamu sanggup puasa? Untuk apa puasa? Memang halal itu apa? Ini kan bukan babi, jadi kamu bisa makan dong?” hingga tadi siang, “Siapa Tuhan kamu?”… Subhanallah… Di Indonesia tak pernah sekalipun saya dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mengenai agama saya (selain di ujian sekolah ataupun madrasah tentunya :p). Fiuuh,,, kalau tahu bakal seperti itu, seharusnya sebelum berangkat ke sini selain persiapan bahasa kami juga harusnya persiapan tentang pelajaran agama lagi ya, review akidah akhlak, fiqih, tarikh, juga tentang syiar yaitu bagaimana tentang cara menyampaikan yang baik (bukan hanya benar), sehingga tak kelimpungan dalam menjawab pertanyaan mereka.

islam_by_susanHasil dari berusaha menjelaskan itu di antaranya beberapa ada yang mengerti (atau kelihatan mengerti) dan ikut bilang masuk akal, beberapa hanya mengangkat bahu dan meragukan, beberapa bersikukuh dengan pendiriannya. Alhamdulillah ada teman kami yang tadinya menurutnya ia takut pada orang-orang muslim, dan setelah mengenal kami ketakutannya berkurang sedikit demi sedikit. Di antara yang lain pun, ternyata ada juga yang sebenarnya cukup mengenal Islam dan ikut bertoleransi pada kami. Meski tak jarang juga ada yang tidak bisa mengerti kami dan bahkan memandang aneh pada kami. Dan kalau udah ada yang protes dan ngotot dengan pendapatnya, maunya sih langsung aja jawab, “Yah, bagimu agamamu dan bagiku agamaku ajalah ya…”

Hanya bisa berdoa semoga kami tidak salah dalam menyampaikan dan tidak pula menimbulkan salah persepsi, aamiin…

_Syiar yang tak terduga_Poitiers, 230513,20.20

 

Ariestya indah permata sari

(Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa unggulan Diknas periode 2012-2013)

6 thoughts on “Mendadak dangdut, eh, syiar

  1. tyuuulll, ane lagi sakit nih… wkwkwkwk novel 2005 siapa yaa kira2 yg bisa edit, banyak juga masuk ke emailku…hahhahaaa tolong kasi tahu anak grup yaa😀 ntar insyaAllah ku attach semua cerpennya🙂

    • Kinkiiiiink… sakit apaaaa ? parah ngga ? Hiks, cepet sembuh yaaa
      Hm.. siapa ya yg bisa edit ? *Pikir2 serius..
      Iy sip nnti ta kasi tau tmn2 di grup. WAmu matikah ?

  2. hehe sakit pilek ma kangen suami aja ty, hahaha.. ni sudah hampir sebulan di bekasi lho, jagain ponakan yang ortunya lagi umroh.. rumah tya di bksi mana? sy di bks slatan😀

    sekarang lagi kurangi ngefesbuk, ngetwit n ngewhatsap, hihhi

    • waaa,,,, di bekasi? Mauuuu ikuuuut !! rmh eike di deket stasiun kranji, perum.tytyan indah. kalo dari terminal pulo gadung naek 33A, kalo dari terminal bekasi naek 31A. mampir kink !😀

      • ooo klo rumah sisterku di perumahan bumi satria kencana ty! dekat mall bekasi itu, dekat berarti yaa… kapan2 deh insyaAllah klo tya udah di Indo kita ketemuan yaa,,,hihihi

      • sebentar,, bumi satria kencana.. hm…. *tiba2 lupa ingatan*. di mana yak? hehehe..tapi kayany sih sering denger, dulu kayany suka ngelewatin deh…siip, pokona mah, kalo ogut dah balik bekasi n kink2 lagi main2 ksna, ntar qt ketemuan yaaa,, ta ajak jalan2 deeh… insyaAllah ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s