Surat, bunga, dan ati ampela


Sore tadi saat pulang ke apartemen, seperti biasa kami mengecek kotak surat sebelum naik ke lantai 2 tempat kami tinggal. Dengan enggan saya membuka kotak itu, karena biasanya amat jarang kami menerima sesuatu di kotak surat kami selain brosur-brosur iklan promo supermarket. Namun tak biasanya, kali ini tiga pucuk surat tersampir di sana, dua buah dari perusahaan asuransi yang masing-masing ditujukan untuk kami, satu lagi sepucuk kecil surat bertulisan tangan beralamatkan nama kami berdua. Tentu surat kecil itu langsung menarik perhatian kami berdua. Dari siapa kira-kira surat ini, yang mengetahui kalau kami berdua tinggal dalam satu apartemen?

suratPenasaran, sesampainya di kamar apartemen, perhatian kami teralih pada surat kecil itu. Sejak pertama melihat tulisan tangan di amplop surat, gaya tulisannya mengingatkan saya pada seseorang, namun entah siapa. Bercap pos Sverige 12 KR dengan tanpa nama dan alamat si pengirim di belakang amplop, surat itu makin membuat kami penasaran. Membaca kalimat pembuka di dalamnya, spontan tebakan kami tertuju pada seorang teman yang kami kenal saat kursus bahasa Prancis semester kemarin. Seorang teman yang, mungkin tidak sedekat seperti halnya sahabat karib, namun juga bukan sembarang teman yang hanya mengenal sepatah kata sapa dan basa-basi tiap kali bertemu. Seorang teman yang spesial bagi kami.

Dengan semangat kami teruskan membaca isi surat yang mengabarkan tentang dirinya nun jauh di sana. Sungguh kami terharu, amat terharu. Pasalnya, teman ini adalah orang asing (baca: bule) yang cantik lagi cerdas. Dan bagi mereka, biasanya agak sulit menerima teman seorang muslim yang berjilbab seperti kami di sini. Berkenalan ya, namun untuk menjadi teman ‘hang out’ dan berbagi layaknya ‘teman’ pada umumnya, sulit bagi mereka menerima kami seperti itu. Namun lagi-lagi, teman kami ini spesial. Kami masih ingat beberapa kali dia ‘curcol’ tentang kesulitannya pada kami. Terbuka dan jujur saat memerlukan bantuan kami, tak segan meski kami ‘beridentitas khusus’. Menghormati perbedaan kami, mengenalkan kami pada beberapa permainan dari asal negaranya, bercanda, bersedih, tertawa bersama kami. Dan kini, meski telah berbulan-bulan yang lalu pergi dari sini, ternyata ia masih mengingat kami, dan mengirimkan kami sepucuk surat manis ini. Sungguh dada kami sontak dipenuhi buncahan rasa haru. Saat kami merindukan rumah dan segala kehangatannya, tanah air dan semua sahabat yang berada di sana, sampailah surat itu pada kami. Menjadi segelas obat manis penawar sakit malarindu.

Kemudian, ingatan saya tertuju pada seorang monsieur (baca: bapak-bapak) yang tiba-tiba memberikan beberapa batang dahan bunga Lila nya pada kami seminggu yang lalu. Saat itu kami dalam masa-masa kegalauan dan kegetiran, down to the dark lah kira-kira. Akibat suatu berita mengagetkan yang menguras semangat kami, ditambah perlakuan beberapa orang ‘sini’ yang tidak mengenakkan pada kami.

bungaBerjalan cepat menyusuri jalan menuju apartemen baru yang akan kami sewa (kami berencana pindah), tiba-tiba kami disapa oleh seorang monsieur yang kemudian menanyakan pada kami apakah kami menginginkan bunga Lila. Dengan kebingungan kami saling melihat, dan lagi-lagi monsieur itu menawarkan bunga Lila sambil menunjuk-nunjuk tanaman di balik pagar yang kami lewati. Dengan cepat ia mematahkan beberapa dahan Lila yang berbunga lebat dan memberikannya pada kami sambil menyarankan ‘penataan’nya dalam vas yang berisi air. Ternyata tanaman Lila tersebut sudah tumbuh melampaui batas pagar rumahnya hingga menghalangi jalan, dan mungkin ia tak tega untuk membuangnya sehingga kemudian dia menawarkan Lila tersebut pada kami. Ia juga menjanjikan jika lain kali kami melewati jalan itu lagi dan bertemu dengannya, ia akan memberikan bibit bunga Lila tersebut pada kami. Sontak kami pun terharu. Di saat ketidaksukaan kami pada orang ‘sini’ memuncak, monsieur itu datang pada kami, seperti ingin mengingatkan pada kami bahwa masih banyak orang-orang baik di sini.

Ingatan saya pun terus melayang pada peristiwa ‘shadaqah’ di pasar tradisional sekitar sebulan yang lalu. Di hari itu kami mencari penjual daging halal yang direkomendasikan oleh teman kami di pasar tersebut. Setelah di sana, kami mendapati bahwa memang ada beberapa jenis daging yang sebelumnya kami cari-cari di sana, namun juga beberapa di antaranya lebih mahal dibanding di supermarket biasa. Saat itu Venty mencari ati ampela, namun sayangnya di sana tidak ada. Kemudian kami menuju penjual daging halal lainnya di pasar itu. Di sana, sudah ada beberapa orang yang sedang membeli, dan sambil menunggu kami melihat-lihat apakah ada ati ampela yang dicari. Sambil mencari-cari, ada seorang gadis kecil peminta-minta yang melewati kami dan menyodorkan tangannya. Karena kedua tangan kami dipenuhi plastik belanjaan dan saya berpikir bahwa tidak ada ‘recehan’ yang mudah diraih oleh tangan saya pada saat itu, hingga saya menolaknya dan berkata maaf.

ayamSaat itu Venty sudah memesan 200 g ati ampela (tadinya bermaksud 100 g, namun berubah pikiran setelah ditanyakan oleh penjualnya) dan sedang menunggu giliran untuk membayar. Kami merasa aneh karena sudah beberapa kali giliran kami dilewati oleh penjualnya. Kemudian ketika akhirnya tiba giliran kami membayar, kami merasa ada yang salah, mengapa kantong plastik yang diberikan pada kami begitu besar padahal Venty hanya memesan 200 g ati ampela. Takut ada kesalahan penyerahan barang, kami tanyakan pada si penjual. Dan, subhanallah, ternyata penjual itu dengan baik hatinya sengaja memberikan kami sekantong plastik besar tersebut pada kami. Yang isinya tidak hanya ati ampela 200 g tapi juga beratus-ratus gram daging sapi, ayam, sosis berbumbu, dan lain-lain.

Dan penjual itu berkata, “Itu shadaqah untuk kalian”.

Ya Allah, dengan takjub kami berterima kasih dan berjalan pulang dari pasar dengan masih merasa tak percaya. Dan astaga, astagfirullah, saya teringat gadis kecil peminta-minta tadi yang saya tolak karena kerepotan memegang plastik belanjaan. Ya ampuuuun, betapa malunya saya! Penolakan saya bershadaqah hanya karena malas mencari beberapa recehan bagi gadis itu dibalas dengan shadaqah daging yang berlimpah seperti ini! Ckckck…. Ya ampun Tyaaaa, betapa dirimu seharusnya malu menjadi muslim seperti itu!

Sungguh, menjalani hidup di sini, yang jauh dari tanah kelahiran, jauh dari keluarga dan kerabat, jauh dari rumah, menjadi banyak pelajaran bagi kami. Bukan hanya pelajaran ‘formal’ yang kami tempuh selama di sini. Namun juga pelajaran informal, pelajaran hidup, pelajaran yang jauh lebih berharga daripada yang kami dapat di ‘bangku’ sekolahan. Merasakan kebesaran Tuhan, kasih sayangNya, teguranNya, cintaNya, yang begitu berarti bagi kami. Tanpa Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang, entah sudah menjadi apa kami di sini. Tanpa teguran-teguranNya, mungkin kami bisa jadi sudah jauh berbelok dari jalan setapak kami.

_the end of another weekend_Poitiers_

 

Ariestya indah permata sari

(Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa unggulan Diknas periode 2012-2013)

8 thoughts on “Surat, bunga, dan ati ampela

  1. huaaa terharu.. co cweet ya kalian berdua.. membayangkan kalau sendiri hidup di sana >.< kisah yang sangat menyentuh, hihihi

    • hahaha, iya ki, aku juga ga bisa bayangin kalo sendirian mah. Bisa gila,,, ups.. ;D
      alhamdulillah punya saudara yg baik di situasi sempit🙂

  2. aaaaaaaahhh… tyaaaaa.. bener2 luar biasa ya ‘perjalanan’ kita disini..
    semoga ‘ujian’2 ini mampu kita lewati bersama dan kita bisa naik tingkat menjadi orang yang lebih baik di masa mendatang ..aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s