Bedanya sono sama sini


Tak terasa (ato terasa banget ya?), 7 bulan sudah kami melewati hari-hari di negeri nun jauh dari kampung halaman ini. Kalo ngikutin hitungannya bumil (baca: ibu hamil), 2 bulan lagi seharusnya kami bakal ‘brojol’ yah. Hmm… banyak hikmah yang kami dapatkan selama di sini. Di antaranya, kami jadi paham betapa beratnya ibu mengandung 7 bulan (lho?). Hahaha, kalo meminjam istilah mpok syahrini, mengandung rindu sebanyak 7 bulan itu ternyata sesuatu ya.

Dari tujuh bulan keberadaan di sini hingga saat ini, kami sudah mengikuti kelas (baca: kursus) bahasa prancis selama 3,5 bulan, kemudian juga sudah ikut merasakan betapa enaknya punya banyak hari libur di sini (hari libur di Prancis yang amat banyak sudah terkenal seantero jagat dan merupakan saat yang paling kami tunggu-tunggu sejak pertama kali belajar bahasa), memulai kehidupan ‘nyata’ di laboratorium, dan bahkan mengikuti kuliah genetik (dalam bahasa planet sini tentunya) selama 2,5 bulan ini.

dosen-mhsSelama masa-masa kuliah di sini, kami menemukan adanya perbedaan pada para dosen dan mahasiswa antara di sini dan di tanah air kami tercinta. Beberapa hal ada yang kami nilai positif, dan beberapa hal juga bernilai negatif. Semua kembali pada diri masing-masing yang memandangnya. Berikut ini beberapa perbedaan yang kami rasakan:

1. Interaksi dosen – mahasiswa

Ada yang unik dengan interaksi antara dosen dan mahasiswa di sini. Kalau di Indonesia, dosen adalah seseorang yang amat dihormati dan hal itu amat tercermin dari sikap mahasiswa pada dosennya. Ambil contoh ketika bertemu dosen, maka mahasiswa akan lebih membungkuk untuk menyapa dosen tersebut dan ada rasa segan ketika berbincang-bincang  atau sekadar menyapa sang dosen. Terlebih pada beberapa fakultas, dan juga pada beberapa daerah. Sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh adat istiadat dan sopan santun daerah setempat. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa ‘terlalu’ menghormati dosen-dosennya terutama bila beliau itu sudah merupakan seorang guru besar. Maka kebanyakan mahasiswa akan menakutinya dan bahkan menganggapnya ‘dewa’ secara sadar ataupun tak sadar.

ALBUM+2+KK+-++separuh+akuMenghormati dan menyegani orang yang lebih tua, lebih berilmu, dan lebih berpengalaman memang suatu hal yang baik, tapi jika berlebihan seringkali hal itu malah membuat interaksi kurang ‘luwes’ dan mahasiswanya juga takut untuk sekedar bertanya, berkonsultasi, ataupun berdiskusi ilmiah dengan dosennya. Seolah terbentang jurang antara si dosen dan si mahasiswa sehingga jadi kaku saat berinteraksi.

Di sini, mahasiswa juga menghormati dosennya. Hanya saja, dosen dengan mahasiswa lebih ‘ngefriend’. Dosen sangat terbuka dan nyaris semua mudah menerima pendapat mahasiswanya. Bila ada suatu ketidaksepakatan atau perbedaan pola pikir, mahasiswa dan dosen sangat bisa dan biasa duduk bersama dan mendiskusikannya dengan ringan tanpa mahasiswa harus merasa khawatir mengemukakan pendapatnya.

2. Malu bertanya sesat di jalan

Itu nasihat lama yang pastinya sudah sering kita dengar. Hal yang kedua ini, adalah mengenai bertanya, dan memang masih berhubungan dengan point pertama tadi. Di Indonesia, sepanjang hayat dikandung badan menjalani sekolah dari TK hingga kuliah, saya amati bahwa kita ini amat susah bertanya. Saat guru atau dosen bertanya, “ada pertanyaan?”. Diam. Ditanya lagi, “sudah mengerti?). Siinggg,,,sepi. Jadi entah karena malu, tidak mengerti atau tidak menaruh perhatian, takut salah, takut dianggap bodoh, takut dibilang tidak nyambung, takut ini, takut itu, sehingga membuat kita tidak mau bertanya. Termasuk juga diri saya. Kebiasaan yang sungguh kurang baik. Padahal tidak ada yang salah dengan bertanya. Namun entah mengapa banyak di antara kita yang tidak mau bertanya, dan bahkan ada hal-hal yang membuat bertanya makin menjadi ‘momok’.

Saya masih ingat ketika dulu masih menjadi seorang koas lugu dan lucu yang serba salah, pada suatu laporan pagi dengan dosen tertentu di suatu stase tertentu, tidak ada di antara kami yang mau bertanya dikarenakan bila banyak bertanya ataupun menjawab pertanyaan sang dosen maka akan dibilang koas pintar rajin sehingga nantinya ketika ujian stase tersebut mahasiswa tadi akan diberikan pada dosen tersusah yang ada di situ. Hal-hal seperti itulah yang sungguh disayangkan terjadi pada kita.

Lagi-lagi, di sini, rasanya saya jarang melihat mahasiswa yang tidak mau bertanya jika ia merasa perlu bertanya. Rata-rata teman kuliah yang satu kelas dengan kami tidak takut untuk bertanya hal yang tidak dimengerti ataupun tidak diketahui pada si dosen. Sekalipun si dosen sekaliber guru besar paling terkenal ataupun paling disegani di kampus. Rasanya iri bila melihat mereka sangat ringan bertanya pada dosen. Selain memang bahasa Prancis mereka yang notabene pasti bagus (yaiyalah orok juga tau orang itu bahasa ibu mereka), tapi dalam hal kebiasaan dalam kemauan bertanya itulah yang penting.

3. Kejujuran

Di antara perbedaan yang kami temui selanjutnya adalah tentang kejujuran dalam menjawab pertanyaan. Dan inilah hal menurut saya amat penting. Sering kami temui bahwa ketika mahasiswa di Indonesia ditanya sesuatu oleh dosennya misal saat presentasi, “apakah kamu tahu tentang…bla..bla..bla..?”. Maka mahasiswa yang ditanya akan dengan sangat berusaha keras menjawab dengan baik untuk memuaskan si dosen. Meski sebenarnya tidak ada satupun yang diketahui dari hal yang ditanyakan, pasti minimal si mahasiswa akan memberikan jawaban yang ‘diplomatis’. Jawaban yang panjang kali lebar kali tinggi yang besarnya melebihi gunung tapi dengan inti yang satu: nihil atau yang sebenarnya bisa dipersingkat dengan “maaf, saya tidak tahu”. Jadi tujuan utama dari menjawab tadi bukanlah memberikan jawaban yang benar tapi memberikan jawaban yang memuaskan hati dosen atau jawaban yang jangan sampai membuat malu karena dianggap tidak tahu apa-apa atau jawaban yang menjaga ‘gengsi’. Padahal apalah sulitnya menjawab jujur?

dntHal yang sebaliknya kami temui di sini, di Prancis. Saat ditanya hal yang memang tidak diketahui, mahasiswa akan dengan cepat (bahkan dengan santai) mengungkapkan, “saya tidak tahu” atau “saya tidak mengerti itu”. Begitupun si dosen. Saat ditanya oleh mahasiswanya dan dosen itu tidak tahu, beliau akan langsung menjawab “saya tidak tahu” ataupun “saya tidak/belum mengerti”, dan tidak berlarut-larut dalam suatu jawaban panjang berujung pangkal ketaktahu-menahuan. Meski dosen yang saya tanya menjawab dengan tidak tahu secara jujur, kadang saya berharap minimal si dosen menjawabnya dengan secara ‘kira-kira’ sesuai ilmunya. Padahal di situlah pentinganya untuk bersikap jujur. Bila dosen atau pembimbing yang saya tanya tadi tidak tahu atau lupa, kemudian beliau mencarinya langsung, esok atau lusa beliau memberitahukan jawaban yang sudah diketahui tersebut dengan menyebutkan sumbernya. Padahal hal itulah yang penting dan sering dilupakan oleh kita. Bahwa berbicara, berpendapat, dan menjawab, haruslah sesuai dengan kapasitasnya akan ilmu tersebut. Haruslah memiliki dasarnya. Bila tidak tahu maka jawab dengan tidak tahu. Daripada tong besar kosong nyaring bunyinya, mending cangkir kecil berisi air biar sedikit tapi bisa melepas dahaga.

4. Keterbukaan akan saran dan kritik

Satu hal lagi yang kami temukan sangat baik di sini adalah, bahwa dosen-dosen di sini umumnya sangat terbuka akan saran dan kritik dari mahasiswanya. Bahkan ada yang secara langsung meminta pendapat dan kritikan dari mahasiswanya segera setelah kuliah selesai agar dapat beliau perbaiki pada kuliah selanjutnya. Selain itu juga ada dosen yang bersedia mengikuti apa yang menarik dan diinginkan mahasiswanya untuk diberikan pada kuliahnya di kemudian hari.

Di Indonesia, memang sudah ada beberapa dosen yang sangat terbuka seperti itu, namun masih banyak pula yang masih kaku dan beberapa tidak bisa dikritik.

5. Informasi kontak komunikasi

prof idamanUmumnya, tidak semua dosen di Indonesia bersedia secara inisiatif tanpa diminta memberikan informasi kontaknya pada para mahasiswanya. Informasi tersebut akan diberikan bila kita menanyakannya. Berbeda halnya dengan di sini, pada setiap awal perkuliahan, atau di akhir kuliah, semua dosen tanpa terlupa selalu memberikan entah itu nomor telepon kantor, rumah, ataupun ‘hape’nya, mencatatkan emailnya, bahkan tempat kantornya dan menawarkan untuk datang kapanpun bila memerlukan bantuan, ingin bertanya, ataupun berdiskusi.

love my teacherYak, itulah yang kami temui begitu berbeda antara di sini dan di Indonesia. Di sini, boleh dibilang, apapun yang mau kita pelajari, pintu-pintu terbentang lebar untuk kita masuki dan banyak pihak siap mendukung. Kami berharap agar kelak Indonesia juga bisa seperti itu, bahkan lebih baik lagi jauh melebihi negeri Eiffel ini. Kami berharap agar lebih banyak lagi dosen ataupun guru yang ‘ngefriend’ dengan mahasiswa/muridnya. Kebiasaan lama yang tidak baik agar bisa dihilangkan, kebiasaan bertanya dapat menyubur dan bisa membangun ‘budaya study’ yang baik. Maju terus Indonesiaku!!!😀

 

———00000———-

Ariestya indah permata sari

(Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa unggulan Diknas periode 2012-2013)

4 thoughts on “Bedanya sono sama sini

  1. yup, itulah indonesia, sulit berkembang karena mental jajahan…terlalu kaku dan takut keluar dari kebiasaan nenek moyang :p (mungkin)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s