Menggali self spirit


“This is really not a joke”

Itulah yang terpikirkan oleh kami selama dua bulan terakhir ini. Kami, tiga orang mahasiswa undip yang ‘terdampar’ di Poitiers yang kecil dan tenang ini. Kami tiga orang yang memulai bersama di bulan September 2012 lalu. Tidak. Tantangan ini sejatinya dimulai sejak Februari 2012, saat kami pertama kali mendapat tawaran untuk melakukan penelitian tesis S2 kami di Poitiers ini.

Pertama kali mendengar tawaran ini, kami merasa mendapat durian runtuh. Wow, berkesempatan melanjutkan studi di benua eropa! Tepatnya di Prancis pula. Seperti cerita dalam salah satu novel favorit saya karya abang Andrea Hirata, Sang Pemimpi. Kemudian teringat pula salah satu scene cerita dalam Da Vinci Code yang bertempat di Musée du Louvre dan juga buku karyanya mba Hanum Salsabila Rais dalam 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya yang bahasa kerennya adalah kutu buku, langsung membayangkannya seperti cerita dalam buku-buku yang pernah saya baca. Sungguh perasaan yang luar biasa mendapat kesempatan melihat bumi Allah ini lebih luas. Berbagai perasaan ‘tergado-gado’ menjadi satu: senang, takut, khawatir, bangga, penasaran, tertantang, semangat.

starDengan syarat level bahasa Prancis yang harus kami penuhi dalam kurun waktu 4 bulan sebelum ujiannya, kami tetap maju perlahan tapi pasti dan memulai kursus bahasa yang kata sebagian orang adalah bahasa yang romantis tapi njelimet itu. Sejak menerima tawaran kesempatan itu, tak ada hari tanpa masalah dan tantangan. Satu per satu kami selesaikan dan lewati. Dengan latar belakang situasi dan kondisi yang berbeda, maka ada beberapa masalah yang berbeda muncul pada masing-masing diri kami. Setapak demi setapak kami melangkah maju, bahkan sesekali bisa jadi kami merangkak dan juga mengesot.

Karena ini merupakan suatu kerjasama baru dalam program kami, maka belum ada suatu prosedur yang pasti dan kami maju tanpa pedoman khusus. Meski pada fakultas lain telah ada suatu program kerjasama yang dijalin sejak beberapa tahun dengan Prancis, namun situasi dan kondisinya sangat berbeda dengan yang ada pada kasus kami. Amat berbeda. Sambil meraba jalan di depan dan mencari panduan dari berbagai pihak, kami membuat progress seseuai kemampuan kami.

Pengurusan beasiswa, dokumen-dokumen, visa, perubahan required level bahasa beberapa kali yang membingungkan kami beserta persiapannya, hambatan dan juga bantuan yang datang tak terkirakan, pencarian link kenalan di tempat tujuan, dan lain-lain. Bolak-balik Semarang-Bekasi-Jakarta-Yogyakarta sudah kami tempuh. Standing applause dan terima kasih untuk Venty yang kuat menyetir hingga larut malam beberapa kali  d^o^b. Dan di luar itu semua, demi mengejar target keberangkatan, program tahun pertama genetik kami dipercepat hingga materi kuliah, praktikum, dan ujian yang seharusnya untuk 2 semester itu dapat terselesaikan dalam kurun waktu 7 bulan. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada profesor dan para dosen tercinta kami, teman-teman kami yang berimbas harus ikut akselerasi ini, dan keluarga kami yang telah memberikan dukungan penuh pada kami, sehingga kami bisa melewatinya dengan cukup baik.

Alhamdulillah, pada 5 September 2012 kami berhasil mendarat dengan selamat di sini. Sudah sampai di sini, bukan berarti perjuangan berakhir. Justru tantangan lain dimulai di sini. Karena level bahasa yang masih kurang, maka program kami dibalik seratus delapan puluh derajat. Dan program pertama sesampainya kami di sini adalah melanjutkan kuliah bahasa di sini, dengan syarat harus lulus ujian bahasa pada bulan Desamber. Jika tidak, menurut ambassade, kami akan dipulangkan kembali ke Indonesia (meski visa kami sebenarnya berlaku untuk 1 tahun ke depan). Kami jalani, kami ikuti, kami mendaftarkan diri pada ujian di bulan Desember tesebut. Dan alhamdulillah tak ada satu pun di antara kami yang tidak lulus. ^o^. Maka kami bisa maju satu langkah lagi ke dapan, maju pada program selanjutnya: memulai kegiatan lab kami di bulan Januari 2013.

pendakiMaka lagi-lagi pertanyaannya, selesaikah perjuangan kami? Mudahkah jalan selanjutnya? Dan kembali saya menjawab, justru sebaliknya, jalan itu makin menanjak terjal. Sejak 14 Januari 2013, justru di sinilah tantangan yang sebenarnya harus kami hadapi. Kegiatan lab, penelitian yang harus kami selesaikan, tesis yang harus kami tulis. Di luar itu semua, berbagai sandungan terbentang bagi kami: peraturan lab tentang berpakaian, masalah administrasi, beradaptasi dengan orang-orang lab (yang merupakan ujian bahasa Prancis yang sebenarnya bagi kami), beberapa miskomunikasi, percobaan kuliah genetik dalam bahasa Prancis, konflik pribadi dan batin dalam diri masing-masing, … Sungguh, this is really not a joke.

Dua kubu bertentangan dalam diri. Negatif dan positif. Masing-masing diri kami mengalami peperangan kedua sisi ini dalam beberapa minggu terakhir. Berusaha keras mengeluarkan sisi positif dan meletakkannya di atas si kubu negatif. Berusaha keras bersabar, kemudian bersyukur. Seharusnya, mudah menemukan hal pada diri kita untuk kita syukuri. Namun, dalam kondisi terbawahmu, lebih bawah daripada sumur paling dalam, lebih dalam dari palung laut tergelap, lebih gelap dari si pekat hitamnya tinta. Di saat diri dalam posisi seperti itu, ternyata kami menemukan bahwa begitu sulit untuk bersyukur dan lebih mudah untuk bersabar.

Jadi, apakah semua perasaan gado-gado yang kami miliki saat pertama kali mendengar kesempatan ke Prancis ini masih ada? Perasaan senang, takut, khawatir, bangga, penasaran, tertantang, semangat? Jawabannya tentu saja masih, dalam kadar yang kini berbeda tentunya. Lalu apakah kami menyesal? Percaya atau tidak, kami berusaha keras untuk menjawab tidak. Tidak ada yang harus kami sesali. Karena semua yang diberikan pada kami hingga detik ini adalah yang terbaik bagi kami. Kami yakin itu. Saya, kami, mungkin merasa itu semua bukanlah hal yang baik bagi kami, tapi kami mengerti bahwa yang kami ketahui dan kami rasakan bukanlah apa-apa dibanding pengetahuanNya. Kami mengerti bahwa sejatinya ada hikmah dibalik semua masalah yang kami hadapi. Maka, Ya Rabb kami, tunjukanlah jalannya bagi kami dan bukakanlah mata kami agar dapat melihat jalan itu…

Let another problem comes. Let it makes us stronger, better, and brighter. Our spirit will never die! :d

_ayosemangatsemangatsemangat_15031311h54_

 

Ariestya indah permata sari

(Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa unggulan Diknas periode 2012-2013)

2 thoughts on “Menggali self spirit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s