Kamu berubah!


“Kamu berubah ya?”

Satu pernyataan dalam intonasi bertanya yang pernah dilontarkan pada saya. Pernyataan itu pula yang sering didengar kala seseorang baru bertemu kembali dengan orang lain setelah lama tak bersua. Saat diri ini yang dimaksudkan dalam pertanyaan itu, saya menjawab dengan sedikit rasa heran, “Masa sih? Nggak, kok”. Entah suatu penyangkalan, entah suatu kebenaran. Meski benar saya tak merasa berubah (atau tak mau mengakui telah berubah), saya melupakan satu hal dasar bahwa yang bisa menilai diri kita dengan lebih objektif adalah orang lain, dan bukan diri sendiri.

Akhir-akhir ini, kata ‘berubah’ menjadi satu hal yang agak menakutkan bagi diri saya. Karena lingkungan di mana saya berada kini benar-benar jauh berbeda dari zona nyaman saya yang terdahulu. Budaya yang jauh berbeda, kebiasaan yang bagai langit dan bumi, orang-orang yang sering tak bisa saya mengerti, kebebasan yang sulit dipercaya…

“Lho, bagus dong, Ty. Tambah banyak kenalan, banyak pengalaman, banyak kesenangan,…”

Benarkah? Memang menyenangkan mengenal hal-hal baru dan mencoba sesuatu yang berbeda. Dan memang, beradaptasi dalam suatu lingkungan di mana diri ini berada adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Seringkali menjadi penting agar dapat bertahan hidup. Namun tetap saja seharusnya ada satu prinsip yang tidak boleh dilanggar dalam hal beradaptasi. Dan hal inilah yang sulit dilakukan: memegang prinsip itu kuat-kuat.

Yang tersusah untuk dilakukan adalah menahan diri dari hal-hal yang diragukan kejelasannya. Hal-hal yang berada di garis abu-abu. Dengan dalih sikon sulit yang tak mendukung, maka tak jarang godaan untuk melonggarkan diri terhadap prinsip itu datang mendera. Memaklumkan diri sendiri dengan alasan keadaan.

“Nggak usah kaku-kaku lah, Ty. Kan bukan kita juga yang mau. Kan kita nggak tahu kalau ternyata… Kan ngga sengaja…. Kan cuma sedikit… Kan…bla..bla..bla…”

Godaan yang sering saya jumpai. Tentu saja bisa saya hindari, meski terkadang sulit. Tapi itu adalah pilihan, dan yang memutuskan adalah diri saya sendiri. Apakah akan tunduk pada godaan dengan alasan yang saya miliki, ataukah bertahan dan berkata tidak. Itulah yang saya khawatirkan. Khawatir banyaknya godaan itu akhirnya bisa memenangkan kehendak saya. Pertama melonggarkan diri dari prinsip. Kedua membuka kuncinya. Ketiga melepaskan prinsip sedikit demi sedikit. Dan terakhir menjadi tak terbendung.

Saya takut berubah. Sungguh takut. Saya telah melihat perubahan-perubahan pada beberapa orang. Meski tak pernah tahu seperti apa awalnya, namun yang bisa saya lihat saat ini menurut saya sudah cukup. Meski saya tak bisa dan tak patut men’judge’ secara sepihak tanpa bertanya dan melihat alasannya, namun saya tetap takut pada perubahan-perubahan mereka. Perubahan-perubahan itu. Sering terbersit ingin bertanya, mengapa berubah? Mengapa menjadi begitu? Tapi selalu urung, terlalu takut bertanya, atau mungkin terlalu takut mendengar jawabannya. Ingin menasehati, namun cenderung melihat pada diri sendiri dan kembali bertanya, “Pantaskah kamu menasehati, Tya? Apakah semua yang kamu pikirkan, katakan, dan lakukan sudah sejalan? Jangan munafik, deh…”. Hingga kata-kata kembali tertelan dan hilang. Sulitnya menasehati…

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Di akhir sekembalinya diri ini, entah pertanyaan mana yang akan diajukan, “Kamu berubah ya?”, ataukah “Wah, kamu nggak berubah ya?”. Ataukah pernyataan lantang, “Kamu berubah!”

__Poitiers, hanya curcol__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s