PERJALANAN KE NEGERI SEBERANG bag.2 (tamat)


Insiden air mineral itu sih tak ada apa-apanya dibanding masalah yang datang kemudian. Setelah nyemil dan istirahat beberapa saat lagi, sebelum 10.20 kami sudah ikut mengantri di Gate 23 untuk boarding. Dengan kesadaran yang makin menurun, keinginan kuat untuk tidur, kepala pening, badan pegal-pegal, dengan susah payah kami mencapai tempat duduk. Dan kali ini, pekerjaan menaikkan barang ke kabin pesawat benar-benar lebih berat lagi karena ternyata tempat penyimpanannya entah bagaimana lebih tinggi daripada pesawat sebelumnya. Aduh mak, dengan banyak mata memandang dan kelihatan kebingungan dengan barang-barang kami, seorang bule yang tempat duduknya sebelahan dengan kami akhirnya bersedia membantu menaikkan barang-barang kami. Kamipun segera duduk, merapikan diri, dan langsung memejamkan mata untuk bersiap tidur. Sebodo amat dengan take-off, sudah terlupa saking telernya. Bermenit-menit kemudian, kok ngga berangkat-berangkat juga sih? Alamaak, kemudian diumumkan bahwa pesawat didelay untuk 1 jam dan kami harus turun kembali tanpa meninggalkan barang-barang di pesawat!!! Omigod, ini becanda kali ya. Terus Venty mencoba bertanya lagi ke pramugari, kali aja kan kami bisa ‘kedip-kedip mata’ minta ijin ninggalin barang di pesawat biar ngga bolak-balik kerempongan. Tapi jawabannya tetap tak bisa. Akhirnya kamipun mengalah dan turun dari pesawat denganmenyeret tas jinjing yang kami bawa (khusus saya, saya tendang-tendang itu tas berat, dah ga sanggup bo…)


Sejam berlalu…. Sejam setengah… Dua jam…. Dua seperempat jam…Masih belum ada tanda-tanda kami akan berangkat. Yang ada malah pembagian makanan snack untuk para penunggu pesawat yang delay. Saat bertanya pada petugas ‘sembako’ tersebut, “Still how many time we have to wait? When will we depart?”, hanya dijawab alakadarnya, “I don’t know..”. Menyadari bahwa kami terancam terlambat sampai di Paris, padahal kami sudah membeli tiket kereta untuk ke Kota Poitiers yang merupakan tempat tujuan akhir kami, kami kalang kabut mencari cara untuk membatalkan tiket kereta tersebut. Sayangnya kami tak berhasil terkoneksi wifi di situ jadi tak bisa membatalkannya via online. Padahal lagi, kami sudah membuat Rendez-vous (janji temu) dengan manajer housing tempat kami tinggal, agar kami bisa langsung masuk ke tempat tinggal yang sudah kami reserve tersebut. Di Perancis, ketepatan waktu sangat penting dan semua pertemuan harus terjadwal sebelumnya (rendez-vous, red.). Waduh, kalau kami gagal bertemu dengan orang tersebut, berarti kami tak bisa masuk housing pada hari itu juga dan harus mencari tempat lain untuk tinggal semalam… T_T. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya kami berhasil menghubungin teman kami, Wahid, di Poitiers untuk menginformasikan delay kami tersebut dan membatalkan atau mengundurkan jam pertemuan.

Tinggal masalah tiket kami. Mba Ita berusaha membantu dengan mencoba menghubungi suaminya di Paris. Namun, apalah daya, karena saat itu masih dini hari di sana, jadi tak ada jawaban. C’est normal. Upaya terakhir, kami berusaha menjelaskan pada petugas Saudi Air di pintu Gate kalau kami sudah mempunyai tiket kereta terjadwal dan akan terlambat untuk sampai ke sana. Kami minta dihubungkan ke Paris, namun petugas itu menjawab bahwa petugas di Charles de Gaulle Airport (CDG) akan bisa mebantu kami dalam hal ini.

Akhirnya diumumkan bahwa pesawat ke Paris sudah siap dan penumpang diminta naik ke pesawat. Kami sangat tegang dengan jadwal landing pesawat dan jadwal depart kereta. Pasraaaah… Mamiiii,,,,hiks, sudahlah…..

Paris, pukul 08.55, akhirnya pesawat kami landing dengan selamat di terminal 2C di CDG. Jadwal depart kereta kami adalah 10.16. Keluar pesawat, sudah mengantri banyak orang untuk melewati gerbang pemeriksaan. Sambil mengantri, kami mencoba menelpon stasiun kereta untuk membatalkan tiket. Tapi yang menjawab adalah mesin dalam bahasa Perancis. Dengan semrawutnya orang-orang dan kondisi panik, tidak ada satu katapun yang bisa saya mengerti. Gagal. Mba Ita pun mencoba membantu dengan menghubungi suaminya kembali. Alhamdulillah diangkat, dan M. Patrick bersedia membantu kami untuk pergi ke stasiun kereta di CDG itu. Kami pun mengirimkan nama kami, nomor referensi pembelian online, nomor penumpang, dan segala macam kode yang ada di tiket online kami via sms.

Selesai melewati imigrasi, kami mereclaim bagasi kami dalam waktu yang cukup lama. Sambil menunggu, terdapat sms dari M. Patrick bahwa sayang sekali tiket kami gagal dibatalkan. Berkali-kali input data kami tidak cocok, akhirnya karena banyak antrian tidak bisa dilanjutkan. Kami harus datang sendiri untuk mencoba menjelaskan pada petugas mengenai masalah delay pesawat kami.

Setelah mereclaim bagasi, kami mencoba melakukan ‘aksi’ protes ke konter check in Saudi Air di CDG, untuk minimal mendapat surat keterangan delay pesawat yang melebihi 3 jam tersebut. Siapa tahu surat itu bisa dipakai untuk membatalkan atau menukar tiket kami dengan jadwal kereta selanjutnya. Nyatanya, kami tidak bisa mendapatkannya karena petugas check-in hanya bisa menerima dan mengeprint boarding pass dan bukan menerbitkan surat keterangan dadakan seperti yang kami minta. Kami disarankan untuk mengajukan komplain tertulis langsung ke kantor Saudi Air. Baiklah, saat ini kami mengalah, tapi tunggulah kami akan melayangkan surat protes tersebut, pikir kami dengan sebal.

Gagal di Saudi Air, kami segera menuju La Gare SNCF (stasiun kereta) yang ada di CDG tersebut dan mencoba mengurus pembatalan atau penukaran tiket kami. Tentu saja kami tidak sendiri, tapi ditemani M. Patrick yang native speaker tapi juga mengerti Bahasa Indonesia, untuk meyakinkan tidak ada miskomunikasi dalam hal ini dengan petugas stasiun. Apalah daya, tiket tetap hangus dan tidak bisa direfund atau ditukar dengan jadwal lain berharga sama. Akhirnya kami membeli lagi dua buah tiket untuk jadwal kereta selanjutnya. Dan 69€ tambahan masing-masing harus kami keluarkan dari kocek kami yang pas-pasan. T_T… Setelah menemani dan membantu kami, Mba Ita dan keluarganya pun pulang. Subhanallah ya, mba, baru kenal tapi dah bersedia kami repotin, hiks… Semoga diberikan balasan yang terbaik dan makin dimudahkan segala urusannya, ya mba,,,amiin…

Kami punya waktu 2 jam hingga kereta datang. Kemudian kami ke toilet untuk sedikit berbenah dan memperbaiki tampang kami yang pasti kelihatan kusut abis dan letoy banget. Karena ingat harus membeli simcard setiba di CDG untuk menghubungi Wahid yang akan menjemput kami setibanya di stasiun Poitiers, kemudian kami mencari tempat yang menjual simcard. Di tabac (semacam minimarket) terdekat, kami tak mendapati adanya simcard. Akhirnya kami memutuskan membagi 2, saya menunggu luggages dan Venty mencari tabac lain yang jualan simcard di terminal tetangga.

Setelah itu kami duduk menunggu dan saat menunggu kami kemudian diajak ngobrol oleh Bapak-bapak berjenggot di tempat duduk depan kami. Ia bertanya, bukahkah kami yang juga satu pesawat delay dari Riyadh. Kami jawab ya. Ternyata Bapak tersebut juga jadi ketinggalan kereta gara-gara delay ini, jadilah ia juga harus membeli kembali tiket untuk jadwal selanjutnya seharga 85€ karena Kota Bordeaux tujuannya lebih jauh daripada kami. Ia adalah muslim Arab yang datang ke kota tersebut untuk urusan pekerjaan.

Kami mengobrol tentang bagaimana aturan cara menaiki TGV (kereta sangat cepat) ini. Karena sama-sama baru pertama kali, kami hanya menjawab setahu kami berdasarkan cerita teman-teman yang lain. Tiba-tiba ada Mas-mas di sebelah si Bapak mengoreksi jawaban kami dan memberi tahu cara yang benar. Setelah itu, sekalian saja kami juga menanyakan cara aktivasi simcard yang baru kami beli, hehehe… Akhirnya kami berhasil menghubungi Wahid dengan simcard baru tersebut dan memberitahunya tentang jadwal kereta baru kami, bahwa kami akan depart pukul 14.16 dan tiba di stasiun Poitiers pukul 16.40

Selain si Bapak Arab (kami lupa menanyakan namanya,hiks…), kemudian datanglah lagi seorang Mister dari Amerika sana. Mendekati jadwal kedatangan TGV yang akan kami tumpangi, muncul keterangan voie (jalur) yang harus kami ambil. Ternyata si Bapak Arab dan Mister tadi pun akan menaiki TGV yang sama walaupun dengan tujuan berbeda. Setelah keterangan voie muncul, kami bergegas menuju ke voie tersebut dengan melakukan compostager (semacam check-in tiket kita di suatu mesin yang tersedia sebelum menaiki kereta). Dan ternyata voie tersebut berada satu tingkat di bawah, jadi kami harus menyeret koper ‘bongsor’ dan tas-tas kami ke bawah dan tanpa troley. Karena kelihatan kerempongan, Bapak Arab tersebut dengan baik hati sekali menawarkan membantu membawakan salah satu barang kami. Dengan amat senang hati kegirangan bak menang lotre langsung kami terima tawarannya. Alhamdulillah banget… Sayangnya, gerbong kami berbeda dengan Bapak itu, kan kalau sama jadi sekalian gitu, eh… (xixixi,,,dikasi hati eh minta jantung).

Nah, selanjutnya yang membuat deg-degan adalah saat naik dan turun dari kereta. Pintu TGV adalah pintu otomatis yang hanya terbuka selama sekitar 3-5 menit. Kami langsung menuju posisi di mana kira-kira gerbong kami akan berhenti. Dan, alamaak, sudah banyak orang menunggu di situ dan tentunya masing-masing dengan banyak koper dan barang-barang pula. Ya ampuuun… Ini sih, tinggal berdoa aja supaya pintu kereta terbuka rada lamaan… Begitu kereta datang, semua langsung berebut menuju pintu, termasuk kami. Namun karena ada permintaan petugas untuk mendahului lansia dan anak-anak, akhirnya kami mengalah dulu pada para kakek dan nenek dengan bawaan yang juga banyak. Kemudian entah bagaimana caranya kami berhasil memasukkan semua barang kami ke dalam kereta. Dan ternyata,, coba tebak, tempat duduk kami terletak di lantai atas kereta (ada dua lantai) dan barang-barang juga harus dibawa ke atas lewat tangga untuk disimpan di tempatnya masing-masing. Astagaaa…akhirnya karena saking semrawut dan tak kuat mengangkat koper 26kg dan 30kg ke atas, jadilah kami pasrahkan saja kedua koper itu di tempat penyimpanan lantai dasar (sisanya kami bawa ke atas) sambil berharap semoga tak ada penumpang lantai dasar yang terhalang dan protes. Bahkan pada perhentian pertama saya turun lagi ke lantai dasar untuk memastikan supaya koper-koper tersebut tidak menghalangi orang lain.

Sepuluh menit sebelum tiba di stasiun tujuan, kami sudah bersiap-siap turun ke bawah untuk mengeluarkan koper kami dari tempat penyimpanan. Dan di tangga, ternyata ada Mba-mba yang duduk di tangga dan koper-kopernya menghalangi langkah kami. Huff… sabar lagi lah. Kemudian setelah ada pengumuman kereta bahwa sebentar lagi kereta akan berhenti di stasiun Poitiers, barulah si Mba-mba itu berdiri. Langsung ta, “Pardon/ excusez-moi /sorry”, sambil berusaha lewat dan mencapai tempat koper. Ternyata sudah ada orang lain di situ yang juga menunggu dan sedang berusaha mengeluarkan kopernya. Setelah itu kereta berhenti dan penumpang mulai turun. Karena mungkin kami terlihat menyedihkan, Venty menurunkan semua barang jinjingan dan saya berusaha menurunkan koper seberat 26 dan 30 kg, ada seorang bule menawarkan bantuan untuk menurunkan salah satu koper. Ahaa, dengan senang hati sekali kami terima. Dan begitu ia mengangkat salah satu koper, terlihat wajahnya tercengang dengan berat si koper. Dia mungkin berpikir, buseeeet nih mba-mba bawa bom nuklir apa? Maaan, beraat abiss…. Hehehe… Yang pasti, merci beaucoup ya, pak, sudah bantuin kami J.

Alhamdulillah kami selamat tiba di stasiun Poitiers, tinggal mencari cara untuk keluar stasiun dan menemukan tempat menunggu yang ideal. Dan…lagi-lagi, untuk mencapai luar stasiun, kami harus menyeberangi rel kereta lewat jembatan penyeberangan di lantai atas… Astagaa…Untungnya ada lift jadi kami tak jadi pingsan di tempat saking kecapennya. Berhasil mencapai pintu keluar, kami mencari tempat duduk. Beberapa saat kemudian Wahid datang menjemput kami bersama seorang temannya, Kadeer. Kamipun diantar ke tempat manajer housing kami (ternyata rendez-vous kami bisa dimundurkan) untuk melakukan instalasi supaya bisa langsung menempati housing tersebut.

Selesai urusan housing, kami tak langsung menuju ke sana, tapi diantarkan dulu ke supermarket. Wahid melihat kami dan bertanya apakah kami kecapean (masihkah perlu ditanyakan?>.<) dan kami bilang ya. Namun karena esok hari Wahid tidak bisa mengantar, jadi ia mengajak kami ke supermarket saat itu juga minimal untuk membeli air minum dan beberapa makanan hingga besok, katanya (saat itu pukul 19.00 dan matahari masih bersinar sumringah. Sesampai di supermarket, nyatanya kami tak hanya membeli air minum botol segambreng, tapi juga persediaan susu, cereal, baguette, panci, selai, telur, dll. Dan yang makin membuat Wahid dan Kadeer terheran-heran adalah bahwa kami yang tadi kelihatan letoy abis ternyata masih kuat untuk memikirkan berulang kali semua barang yang akan kami beli dan hanya memilih barang yang menurut kami murah. Yaiyalah, secara bagi kami semuanya mahal dan kami harus berhemat dengan pengeluaran. Setelah itu kamipun diantar pulang ke housing kami. Waaahh,,,,akhirnyaaaa,, setelah perjalan panjang nan melelahkan, kami tiba dengan selamat di Poitiers ini… Alhamdulillah….

————

Poitiers, le 8 Sep 2012, 02.33

4 thoughts on “PERJALANAN KE NEGERI SEBERANG bag.2 (tamat)

  1. Halo tya..subhanallah sudah di negeri seberang aja si tya n venty.. Baru kali ini saya baca tulisan tanpa melompati satu kata pun,hehe..seru bgt kayakx ty, insyaAllah cepet adaptasi disana ya say.. Semangat terus menutut ilmux :-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s