Resensi buku: Elang dan Bidadari


Hai, teman-temanku sesama bookaholic, especially noveliholic, especially romanoholic, especially domesticoholic ! ヽ(^。^)ノ  Apa kabarnya semua setelah baru saja kembali masuk kantor atopun sekolahan? Semoga tetap dan makin semangat beraktivitas dan berkarya, fighting!
#Ini awalan resensi buku ato siaran radio sih?? :p

Yak, kali ini saya mau berbagi kembali tentang buku yang baru saja saya selesaikan dan menurut saya recommended untuk dibaca. Asal tahu saja, buku ini berhasil menggoda saya untuk mengenyampingkan sementara tugas logbook dan exercise yang harus saya kejar.
Buku yang termasuk kategori roman ini konon adalah salah satu yang menjadi unggulan pada Lomba Novel Republika 2012.

Novel karya Puput Sekar ini berjudul Elang dan Bidadari. Nah, dari judulnya saja sudah bisa ditebak bahwa novel ini bercerita tentang dua insan manusia berbeda jenis kelamin. Kalo kata temen-temen sekampus saya, berbeda kromosom seks, satunya XY dan satunya XX, tapi harus dengan pembuktian pemeriksaan kromosom tentunya.
Ishh, ini kok jadi ngelantur… = ̄ω ̄=

Iya, kedua orang ini selain berbeda jenis kelamin, mereka juga berbeda bangsa, budaya, dan terpenting adalah agama. Nah, yang pertama kali membuat saya tertarik membaca adalah karena satunya (yaitu si cewek tokoh utama) adalah Indonesian people just like me…(ahahaha, kebiasaan jelek menghanyutkan diri dalam cerita). Dan satunya lagi yaitu si cowok tokoh utama adalah Korean maaan… Duilah, secara saya ni termasuk penderita penyakit wabah Demam ChingguKorea (bukan Chikungunya), ya otomatis ini buku langsung ta jambret dari rak dan ta bawa pulang (eh,ta mampir dululah di kasir..:p).

Eits,,kita melenceng jauh dari alur cerita novel ini, sodara! Ayo balik…

Adalah Jingga Sovianna, seorang muslimah Indonesia yang berkesempatan mengikuti program budaya Korea selama 6 bulan di Univ. Hankuk, Seoul. Selama program tersebut ia mati-matian mempertahankan prinsip norma dan nilai yang dianutnya dalam keseharian di hiruk-pikuknya Kota Seoul, di mana muslim merupakan minoritas. Dan Kim Young-Han adalah seorang pria Korea tulen yang dikenal sebagai “iced-man” oleh kawan-kawan, bahkan keluarganya. Namun siapa mengira bahwa pria sedingin es ini lebih mampu bertoleransi pada muslim dibanding orang lain yang sikap sehari-harinya hangat? Sebenarnya ada rahasia apa dibalik sikap dinginnya tersebut?

Di Seoul mereka bertemu, berusaha men-denial kan diri satu sama lain. Selanjutnya teman-teman bisa menebak sendiri alur ceritanya, yang memang bukanlah suatu tema yang baru. Namun, yang membuat saya suka, adalah karena gaya bahasanya sederhana dan tidak berbelit-belit. Novel ini tidak seperti banyak novel lain yang kadang terlalu ingin menonjolkan sisi kesusasteraan dan menggunakan terlalu banyak kiasan yang berlebihan hingga kehilangan alur yang membuat ceritanya sulit dimengerti oleh pembaca. Dan melalui karyanya ini, sedikit banyak menambah wawasan kita tentang Negeri Ginseng.

Yah, buku sudah dibaca, resensi sudah ditulis… Sekarang waktunya kembali ke tugas-tugas yang sudah duduk manis mengantri di depan saya. Sekian dulu resensi buku kali ini. Keep reading, keep learning! Ciao! 0^◇^0)/

7 thoughts on “Resensi buku: Elang dan Bidadari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s