Anak-anak itu bukanlah produk yang gagal, kawan…


Pernahkah kawan-kawan mengunjungi sebuah SLB? Tidak? Oke, mungkin banyak yang belum pernah berkunjung ke sana, tapi pastinya kalian sudah tahu kan, apa itu SLB? Betul, SLB yang itu, yang merupakan kependekan dari Sekolah Luar Biasa.

Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menurut Heward adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.

Sekolah ini dikelompokkan menjadi beberapa kategori yang disesuaikan dengan kekhususan yang ada pada anak-anak tersebut. SLB A diperuntukkan bagi anak-anak tunanetra, SLB B bagi anak-anak tunarungu, SLB C untuk anak-anak tunagrahita, SLB D untuk anak-anak tunadaksa, SLB E untuk anak-anak tunalaras, dan SLB G untuk anak-anak dengan cacat ganda.

Tunanetra merupakan individu yang mempunyai hambatan dalam penglihatan, baik total (blind) maupun tidak (low vision). Tunarungu adalah individu dengan hambatan dalam pendengaran, baik permanen ataupun tidak, mulai dari derajat ringan hingga ekstrem (tuli). Individu ini biasanya juga memiliki hambatan dalam berbicara (tunawicara) disebabkan perkembangan bicara merupakan proses yang sejalan dengan indra pendengaran.

Tunagrahita adalah individu dengan intelegensi yang secara signifikan di bawah rata-rata dan disertai ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan, yang berdasarkan IQ dibedakan menjadi derajat ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Tunadaksa merupakan individu yang memiliki hambatan gerak dikarenakan kelainan neuromuskular dan struktur tulang, yang dapat bersifat bawaan, sakit, atau akibat kecelakaan, termasuk di dalamnya: cerebral palsy, amputasi, penyakit polio, dan kelumpuhan. Tunalaras adalah individu dengan hambatan dalam pengendalian emosi dan kontrol sosial, yang dapat disebabkan faktor dari dalam maupun dari luar.

Adalah Drs. Ciptono, seorang guru luar biasa yang dengan luar biasa berhasil menemukan dan mengembangkan keistimewaan yang dimiliki oleh banyak ABK asuhannya. Beliau merupakan Kepala Sekolah dari SLB Negeri Semarang yang kini telah memiliki murid sebanyak kurang lebih 600 anak. Kecintaan dan pengabdiannya bermula sejak tahun 1987 (wah, saya baru lahirr… :0), di mana beliau yang merupakan lulusan IKIP Yogyakarta mulai mengajar di SLB Wantu Wirawan Salatiga dengan gaji Rp5000,- /bulan ditambah ongkos Rp700,-. Meski berasal dari keluarga yang cukup berada, namun beliau selalu peduli pada orang-orang yang membutuhkan dan tak segan-segan mendidik serta memberikan yang terbaik bagi anak-anak asuhannya.

SLB N Semarang yang awalnya dirintis oleh beliau pada tahun 2002, pada awalnya merupakan sebuah ruangan kecil di balai RW dekat rumahnya. Kemudian pindah di samping garasi rumah dan menetap di situ selama kurang lebih 3 tahun. Pada tahun 2005 barulah kemudian sebidang tanah beberapa hektar dihibahkan oleh pemerintah kota Semarang untuk didirikan bangunan SLB yang baru. Hingga saat ini, SLB tersebut sudah memiliki gedung-gedung yang cukup baik, terdapat kelas-kelas khusus untuk masing-masing kelompok anak, bengkel kerja, ruang musik, tata busana, menggambar, berbagai macam metode pembelajaran, ratusan murid, dan puluhan guru. Namun, tentu saja semua ini masih belum cukup untuk menyediakan pendidikan bagi seluruh ABK.

Menurut perhitungan Pak Ciptono, saat ini terdapat kurang lebih 26000 ABK di Jateng, namun hanya sekitar 50% saja yang sudah tersentuh pendidikan. Padahal di dalam diri anak-anak ini, banyak tersimpan potensi lain yang terpendam dan dapat diasah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Jujur saja, bila kita melihat anak-anak seperti itu, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita? Bahwa mereka anak-anak cacat yang harus dikasihani? Cemoohan? Merasa beruntung bahwa bukan kita yang mengalami seperti itu? Bahkan saya sendiri pada awalnya merasa kasihan. Namun ternyata, mereka tidak membutuhkan rasa kasihan. Lalu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak tersebut? Jawabannya, mereka hanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan yang sama dengan anak lain untuk mengenyam pendidikan, kesempatan yang sama untuk berinteraksi sosial dengan orang lain, kesempatan yang sama untuk memperoleh kualitas hidup yang sebaik-baiknya yang dapat mereka peroleh.

Menurut Pak Ciptono, anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah produk Tuhan yang gagal, karena Tuhan tak pernah gagal.

Tuhan memiliki maksud dan tujuan sendiri yang di luar perkiraan kita seorang manusia. Selain kekurangan, pasti ada kelebihan yang dimiliki oleh mereka. Maka tidak sepantasnya kita meminggirkan mereka, mengucilkan mereka, apalagi mencemooh mereka. ABK pun berhak memperoleh kesempatan untuk dapat dididik semampu mereka. Berpedoman pada prinsip seperti itu, SLB N yang beliau pimpin ini selalu terbuka lebar bagi ABK seperti apa pun.

“Karena ini adalah sekolahnya manusia”, beliau bertutur.

Dan tidaklah sia-sia, bibit yang baik yang dirawat dengan tekun dan baik akan menumbuhkan tanaman yang berbuah baik pula. Di bawah asuhan beliau, banyak ABK yang kemudian dapat ditemukan potensinya dan dikembangkan menjadi kemampuan khusus yang bahkan melebihi orang normal.

Siapa tak kenal Kharisma Rizky yang pernah muncul pada Kick Andy Show beberapa waktu lalu? Kharisma yang menderita autisme ternyata memiliki daya hafal yang luar biasa, hingga dijuluki Google berjalan. Pada tahun 2007 Kharisma meraih rekor MURI karena dapat menghafal sebanyak 250 lagu. Dan kini, diperkirakan ia sudah hafal sebanyak kurang lebih 600 lagu. Ia juga pandai menirukan suatu tokoh dalam berpidato dan menyajikan seminar. Ia hafal teks-teks tersebut hingga titik dan koma yang ada di dalamnya.

Kemudian, ada Jelita Taurina Hutabarat yang merupakan seorang tunagrahita dengan bakat istimewa dalam olahraga tenis meja. Ia pernah meraih juara 1 tenis meja putri antarsiswa SLB se-Jateng. Ivan Adi Nugroho yang tunarungu, nyatanya memiliki kemampuan dalam olahraga lompat jauh. Lompatannya sejauh 5,47 meter berhasil membuatnya menjadi Juara 1 lompat jauh pada Porseni SLB di tingkat Jateng. Selain itu, Ivan ternyata juga berbakat dalam modeling dan pantomim. Ada pula Lasella yang cantik dan anggun yang berhasil menjadi juara 3 modeling tingkat Karesidenan Semarang. Siapapun tak akan mengira bahwa Lasella yang pandai menari adalah salah satu ABK di SLB Negeri pimpinan Pak Ciptono.

Gigih Prakoso yang menderita cerebral palsy sehingga kehilangan fungsi tangannya, ternyata terampil dalam merangkai kerajinan perhiasan mote dengan menggunakan kedua kaki. Ada Jamaludin Cahya yang pandai dalam desain grafis, juga Eno yang pandai dalam kerajinan melukis dan membatik. Selain mereka, masih banyak anak-anak ABK lainnya yang juga memiliki potensi tertentu yang dapat diasah.

Maka, janganlah kita menghindari dan membedakan mereka hanya karena kekhususan yang dimiliki mereka. Mereka sama seperti kita dan juga memiliki hak-hak yang sama dengan kita. Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak itu mampu bekerja keras dan giat berlatih hingga dapat berhasil. Sebagai orang yang ‘normal’, seharusnya kita lebih bersyukur, lebih produktif, lebih bisa bermanfaat untuk sesama. Pesan ini lebih kepada diri saya sendiri yang sering bermalas-malasan. Saat mengunjungi SLB ini dan bertemu dengan mereka semua, sungguh saya sangat malu pada diri sendiri: kurang bersyukur, sering meremehkan waktu, tidak produktif,…

Berkaca pada anak-anak itu, kita harus memperbaiki diri kita, sifat kita, pola pikir kita terhadap mereka. Ingat, anak-anak itu bukanlah produk gagal, kawan…

#Inspired by Pak Ciptono dan adik-adik SLB negeri Semarang.
Semoga semakin maju dan Rumah Inspirasi dapat segera terwujud, amiin…

2 thoughts on “Anak-anak itu bukanlah produk yang gagal, kawan…

  1. c’est super!, mademoiselle tya.. tu es très gentille et sympa🙂
    very inspiring..
    aiiihhh..sayang banget.. tadi pas kalian ngobrol dg pak cipt.. daku sedang anam ibu pasien.. huiks,huiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s