You are what you eat: Be yourselves and do not imitate others, my friends!


Salut, mes amis! Hello, friends! :D   Ça va? How are you?

Sekarang kita akan berbincang tentang kita, Indonesia, dan  tentang hidup sehat. Ide ini didapat dari kakak kelas saya yang sedang menuntut ilmu di negeri kangguru. Ia bertanya pada saya, tahukah saya kenapa orang bule kalah kecil dibanding orang Asia? Atau kenapa orang Asia lebih langsing secara umum?

Jawabannya adalah: karena bule makannya gandum, sedangkan kita orang Asia makannya nasi…🙂

Usut punya usut, ternyata gandum banyak mengandung gluten. Wikipedia mendeskripsikan gluten sebagai campuran yang tak beraturan antara protein dan pati. Gluten merupakan salah satu zat yang terkandung dalam beberapa serealia, terutama gandum. Karena sifatnya yang kedap udara, gluten dapat membuat adonan dapat mengembang. Gluten juga membuat adonan menjadi kenyal karena bersifat elastis. Dan gluten ini merupaka protein yang dapat menyebabkan kegemukan.

Pada beberapa orang, gluten dapat menyebabkan terjadinya reaksi hipersensitivitas (sistem kekebalan tubuh menganggap gluten sebagai benda asing) yang memicu pelepasan histamin sehingga menimbulkan alergi terhadap gluten. Selain itu, ada pula yang dinamakan gluten intolerance, di mana orang tersebut tidak dapat mentoleransi makanan apapun yang mengandung gluten. Hal ini berhubungan pula dengan sistem imun, namun terjadi lebih parah karena terjadi reaksi autoimun yang mengakibatkan kerusakan pada rambut-rambut halus (villi) di dinding usus. Padahal villi ini penting dalam fungsi penyerapan bahan makanan. Bila rusak, maka akan membuat penderitanya tidak dapat menyerap bahan makanan dengan baik, dan timbul gejala-gejala seperti diare yang umum dikenal sebagai coeliac disease. Bila alergi gluten disebabkan oleh reaksi antibodi IgE, maka gluten intolerance disebabkan oleh reaksi antibodi IgA dan IgG. Bahkan, belakangan diteliti mengenai adanya hubungan antara gluten dengan penyakit Autis.

Yang menarik, gluten ini tidak ditemukan pada beras atau jagung, yang menjadi makanan pokok dari banyak orang Asia. Mengenai betapa baiknya nasi, bahkan nenek dari seorang teman saya yang asal Prancis, selalu menyuruhnya untuk makan nasi bila ia menderita sakit diare. Kalau di Asia, termasuk Indonesia, membuat bubur nasi merupakan hal yang umum dilakukan ketika sakit. Karena itulah, secara teori, seharusnya orang Asia lebih sehat ketimbang orang bule, karena makanan pokoknya tidak akan menyebabkan kegemukan. Kegemukan merupakan faktor resiko berbagai penyakit, terutama yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah.

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 yang diterbitkan oleh Depkes pada November 2010, diketahui bahwa:

di antara 10 penyakit, yang menjadi penyabab terbanyak kematian di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008 adalah penyakit sistem sirkulasi darah.

Penyakit ini menyebabkan kematian sebanyak 23.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11,06%.

Lantas, kenapa sekarang ini banyak yang menderita penyakit sirkulasi darah?

Jawabannya antara lain adalah karena di era yang orang bilang makin modern ini, makin banyak orang Indonesia yang menderita kegemukan sebagai faktor resiko penyakit tersebut. Dan mengapa kini banyak yang menderita kegemukan? Sebab kita, yang notabene orang Asia, seringkali berkiblat pada barat dan mencoba meniru-niru budaya mereka. Banyak makan roti, fastfood, burger, pizza, junkfood, dan sodara-sodaranya yang kini banyak menjamur di negeri kita. Saya akui, termasuk saya sendiri sulit menahan diri terhadap fastfood. Padahal itu buruk untuk kesehatan kita. Padahal kebiasaan makan yang diajarkan pada kita sejak SD tentang 4 sehat 5 sempurna, adalah ‘sesuatu banget’. Kenapa kita malah melupakannya?

Selain makanan, kita juga terserang demam gadget. Cobalah perhatikan sekeliling kita, dan hitunglah berapa orang yang tak memegang atau membawa minimal BB/tablet/smartphone/laptop/netbook? Bahkan sepupu saya yang TK, sudah pintar memainkan angry bird di ipadnya. Teknologi maju memang baik, namun kadang kita lupa dengan dampaknya dan lupa mengantisipasinya.

Dengan maraknya gadget, hubungan jarak jauh menjadi bukan masalah, mendekatkan kerabat kita yang sedang berada jauh dari kita. Namun, tanpa disadari, gadget juga membuat yang dekat menjadi jauh. Orang-orang menjadi ‘autis’, kurang peduli dan peka pada orang di sebelah atau di depannya. Anak-anak berjam-jam duduk di depan gadget dan bermain game. Membuat mereka malas beranjak dan bergerak. Membuat mereka lupa berteman dengan sebayanya dan bermain di alam. Ditambah kebiasaan makan yang banyak mengandung junkfood. Alhasil, tak heran banyak anak kecil sekarang ini yang menjadi kegemukan karena kurang bergerak. Dan malangnya, masih banyak orang tua menganggap bahwa anak gendut bulat itu lucu dan bagus.

Nah, dari gluten, kita sama-sama diingatkan kembali untuk jangan meniru-niru budaya orang lain. Jadilah diri kita sendiri. Karena ternyata, banyak budaya kita yang tanpa kita sadari sebenarnya lebih baik dibandingkan orang lain (baca: negara barat). Belajarlah untuk menghargai apa yang kita miliki, dan berbanggalah. Ilmunya boleh kita pelajari dan kita ambil, namun jangan meniru kebiasaan atau budayanya tanpa kita saring.

Bon courage! Semangat menimba ilmu!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s