IMMUNOLOGY THROUGH THE AGES: Studi Pustaka Sejarah Awal Imunologi


Saat kita pergi ke dokter, seringkali kita mendengar para bpk/ibu berjubah putih itu menerangkan, “jadi pak/bu/mbak/mas/dek/kaka/abang,,, sistem imun anda sedang jelek, bla..bla..bla” dan segudang penjelasan lain dalam istilah yang seringkali dokter-dokter itu lupa bahwa sebagian pasiennya adalah orang awam. Maka kali ini sy ingin berbagi sedikit pengetahuan sy tentang sejarah imunologi.

Definisi
IMUNOLOGI berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata: Immunis dan Logos. Immunis yang berarti kebal atau bebas, sedangkan logos berarti ilmu. Kata immunis dahulu dipakai pada masa kerajaan Romawi untuk menyebut warganya yang terbebas dari membayar pajak atau kerja paksa. Namun tentu saja gabungan kedua kata immunis dan logos ini bukan berarti bahwa pengertian imunologi adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk menghindar dari kewajiban membayar pajak… :p

Imunologi merupakan ilmu yang mempelajari sistem imunitas dalam tubuh.

Pada awalnya, kata imunitas berarti perlindungan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi, sehingga semula ilmu ini banyak dipelajari oleh para ahli mikrobiologi. Namun kemudian terungkaplah bahwa benda asing non-infeksius juga dapat menimbulkan respon imun, sehingga imunologi makin berkembang dan pada akhirnya berdiri sebagai ilmu yang mandiri.

Sejarah Awal Imunologi

Mithridatisme. Dirunut dari sejarahnya, ternyata imunologi sudah dikenal sejak zaman ratusan tahun sebelum masehi. Maka tersebutlah seorang raja Yunani yang hidup pada 132-63 SM,

sebagai orang pertama yang dianggap ahli imunologi pertama di dunia. Mengapa sang raja bisa sekeren itu pada zaman tersebut? Usut punya usut, ternyata sang raja yang bernama Raja Mithridates Eupatoris VI itu selalu merasakan kegalauan dan kegelisahan dalam masa pemerintahannya dikarenakan beliau takut pada musuh-musuh yang tidak nampak olehnya (musuh dalam selimut) suatu saat akan membunuhnya dengan menggunakan racun. Maka dari itu sang raja pun mengebalkan dirinya dengan cara mencari segala jenis racun yang ada pada saat itu dan meminumnya sedikit demi sedikit sehingga dirinya kebal terhadap racun tersebut. Bagaiman seseorang bisa disebut kebal terhadap racun pada saat itu? Ternyata bila seseorang tersebut tidak mengalami efek merugikan si racun dalam dosis yang biasanya bagi orang lain (yang tidak kebal) akan mengalami efek merugikan, maka seseorang tersebut dikatakan kebal terhadap racun. Maka kemudian usaha pengebalan diri terhadap racun yang dilakukan raja Yunani ini dinamakan mithridatisme.

Variolasi. Berlanjut bertahun-tahun kemudian, berjangkitlah wabah penyakit sampar yang mematikan di Eropa. Seorang sejarawan mencatat hasil pengamatannya bahwa mereka yang pernah sembuh setelah menderita penyakit sampar sebelumnya ternyata terhindar dari serangan wabah penyakit sampar yang meluas ini. Pengetahuan ini pun dimanfaatkan untuk membuat kebal seseorang dari penyakit menular dengan menularkan secara sengaja orang yang sakit kepada orang yang sehat, sehingga bila terjadi wabah mematikan penyakit tsb, maka orang tersebut akan menjadi kebal. Pada abad ke-12, bangsa Cina juga telah menerapkan pengetahuan yang sama untuk menanggulangi wabah penyakit cacar yang telah menelan korban dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka dengan sengaja mengoleskan cairan atau kerak kulit yang berasal dari penderita cacar (idiiihh… >_uhuk..uhukk
… O_o). Karena cara ini dipandang banyak mengandung risiko yang sangat merugikan, kemudian cara ini diganti manjadi cara penularan yang pasif, yaitu hanya dengan membaurkan orang yang sehat dengan orang yang menderita cacar. Cara pencegahan penularan ini kemudian dikenal dengan istilah variolasi

.

Vaksinasi. Di saat terjadi banyak pertentangan mengenai cara pengebalan tubuh dengan variolasi ini, kemudian pada abad ke-18, seorang mahasiswa kedokteran Inggris bernama Edward Jenner menemukan cara yang lebih aman untuk menanggulangi wabah penyakit cacar. Jenner muda ini mengamati bahwa di samping virus cacar yang menyerang manusia, terdapat jenis virus cacar lain yang menyerang ternak (kuda atau sapi). Dimana virus cacar sapi ini pun diketahui dapat menular pada manusia namun dengan gejala-gejala yang ringan. Ia pun mengamati bahwa para gadis pemerah susu yang pernah tertular cacar sapi ini ternyata  lolos dari serangan wabah cacar manusia yang mematikan. Kemudian ia melakukan penelitian dengan menularkan cacar sapi pada sekelompok orang, dan ternyata hipotesisnya teruji kebenarannya. Cara pemberian kekebalan yang ditemukan Jenner ini dinamakan vaksinasi. Vaksinasi berasal dari kata vacca  yang berarti sapi. Perbedaan konsep vaksinasi dengan variolasi terletak pada bahan yang sengaja ditularkan pada manusia. Vaksinasi ala Jenner ini menggunakan bahan yang mirip dengan organisme renik penyebab cacar pada manusia.
Vaksinasi kemudian berkembang lagi dengan ditemukannya bibit penyakit yang telah dilemahkan sebagai bahan pemberi kekebalan terhadap penyakit tersebut. Cara ini ditemukan oleh Louis Pasteur, seorang ahli mikrobiologi, secara tidak sengaja. Pasteur dan kawan-kawannya ingin memperoleh bibit penyakit yang dapat menimbulkan kekebalan namun memiliki risiko yang rendah bagi orang tersebut, yaitu bibit penyakit yang telah dilemahkan. Para ahli ini meneliti bibit penyakit kolera pada ayam (Pasteurella aviseptica). Suatu ketika Pasteur pergi berlibur meninggalkan bibit penyakit kolera tersebut sehingga menjadi kurang perawatan, namun setelah pulang dari liburan tidak disangka bahwa bibit penyakit yang kurang perawatan tersebut menjadi lemah, karena tidak dapat lagi menimbulkan penyakit kolera pada ayam namun membuat ayam kebal terhadap serangan bibit penyakit yang masih ganas. Maka, vaksinasi ala Pasteur inilah yang kemudian berkembang luas hingga saat ini.

Ketiga macam cara perlindungan terhadap penyakit yang telah diceritakan di atas menjadi awal bagi perkembangan imunologi. Selanjutnya, diketahui pula bahwa imunitas juga bekerja terhadap benda asing non-infeksius, dan respon imun yang ditimbulkan tidak selalu menguntungkan bagi tubuh. Untuk setiap aksi, terdapat reaksi. Maka dari itu masih banyak bagian dari sistem imun yang masih belum diketahui dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Semuanya saling melengkapi dan memiliki tugasnya masing-masing, patuh pada satu aturan main. Siapakah yang mengatur sistem yang begitu menakjubkan itu selain dari Sang Maha Pencipta? Nah, penjelasan singkat mengenai asal muasal imunologi ini diharapkan bisa menambah knowledge kita dalam memahami imunologi. Semangat terus belajarnya!😀

Dan sungguh ilmu manusia hanya bagaikan setetes air di lautan yang luas.Makin berilmu seseorang, maka semestinya makin terbukalah akal pikirannya untuk mengakui keberadaan Sang Pencipta.

🙂 Wallohualam…

Sumber:
1. Subowo. Imunobiologi. Edisi 2. 2009. Jakarta: Penerbit Sagung Seto
2. Kresno SB. Imunologi: Diagnosis dan prosedur laboratorium. Edisi keempat. 2001. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
3. bahan Kuliah imunologi
4. Internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s