Penyakit ‘sepuh’ itu bernama TB


TB atau TBC, atau tuberkulosis, atau yang sering dikenal dengan flek paru, atau di beberapa  tempat juga disebut KP (koh pulmo/paru); adalah salah satu penyakit yang sudah lama ‘bertengger’ di jajaran penyakit menular di Indonesia. Meskipun telah dibuat suatu lembaga dan program pemberantasan terhadap TB, namun nyatanya hingga saat ini penyakit TB di Indonesia masih menduduki peringkat ke-5 di dunia. Data ini diambil dari data organisasi kesehatan dunia WHO yang dirilis pada tahun 2008. Bila dibandingkan dengan data tahun 2006, memang hal ini merupakan suatu kemajuan yang besar di mana pada saat itu negara kita masih menduduki peringkat ke-3 dunia setelah India dan Cina. Kemajuan ini bisa dilihat dari angka kematian akibat penyakit TB yang telah mengalami penurunan, di mana pada tahun 1990 sebesar 92 per 100.000 penduduk, dan pada tahun 2009 menjadi 27 per 100.000 penduduk. Angka kesembuhan juga meningkat hingga mencapai 85%.

Namun di samping keberhasilan tersebut, ada hal penting yang patut mendapat perhatian pula, di mana insidensi dan prevalensi TB di masyarakat sendiri masih cukup besar.

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 yang diambil dari statistik WHO, disebutkan bahwa di antara negara-negara ASEAN, Indonesia dengan prevalensi TB 210 per 100.000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi.

Sementara itu, disebutkan pula bahwa kasus HIV dan AIDS mengalami trend peningkatan setiap tahunnya. Lantas apa kaitannya hal ini dengan TB? Tentu sangat berkaitan, di mana TB sendiri merupakan suatu infeksi yang mudah terjadi pada orang dengan status imun yang lemah (atau sering disebut dengan infeksi oportunistik). HIV yang membuat penderitanya mengalami penurunan status imun (kekebalan tubuh), menjadikan rentan bagi penderitanya untuk terinfeksi penyakit oportunistik seperti TB. Statistik WHO menyebutkan pula mengenai tingginya insidensi TB pada penderita HIV, yaitu sebesar 189 per 100.000 penduduk pada tahun 2009.

Hal penting lainnya yang juga patut diperhatikan adalah terjadinya resistensi kuman TB terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang sudah mulai merebak di Indonesia. Secara mudahnya, resistensi merupakan suatu keadaan di mana kuman atau bakteri telah kebal terhadap obat (dalam hal ini adalah antibiotik). Karena pengobatan TB memerlukan waktu yang lama (minimal 6 bulan), maka OAT diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi kuman TB. Untuk itu diperlukan suatu kepatuhan yang baik dari seorang penderita TB agar tetap ‘rajin’ menelan obat yang begitu banyak secara rutin hingga waktu yang telah ditentukan oleh dokter. Ini merupakan suatu tantangan tersendiri, di mana biasanya para penderita TB hanya rutin meminum obat selama 2 bulan pertama, dan setelah merasakan keluhan membaik, mereka cenderung meninggalkan OAT. Hal inilah yang kemudian dapat menimbulkan terjadinya resistensi terhadap OAT. Padahal untuk mengatasi masalah ini, telah dibuat suatu kombinasi dosis tetap (fixed dose combination/FDC), di mana OAT yang terdiri dari beberapa macam tersebut telah dikemas dalam satu kesatuan sehingga penderita tak perlu menelan banyak obat dalam satu waktu.

Bahkan, pemerintah pun telah ‘menggratiskan’ OAT agar biaya tak menjadi halangan bagi penderita TB untuk dapat rutin mendapat pengobatan. Namun apa yang terjadi? Meski OAT sudah dikemas satu kesatuan, dan telah menjadi gratis, ternyata masih cukup banyak para penderita TB yang ‘bolong’2 dan tidak patuh menelan obat. Hingga, tak ayal lagi, kini resistensi terhadap OAT sudah mulai muncul di Indonesia. Statistik WHO tahun 2009 mencatat bahwa terjadinya resistensi terhadap berbagai OAT (multi drug resistant/MDR-TB) adalah sebesar 1,8% dari jumlah kasus TB baru yang terjadi di Indonesia. Bahkan dalam suatu seminar mengenai penyakit paru, dikatakan bahwa MDR-TB di Indonesia adalah peringkat ke-8. Lalu apa yang bisa dilakukan bila terjadi MDR? MDR adalah resistensi yang terjadi pada OAT lini pertama, sehingga bila terjadi MDR masih dapat diatasi dengan memberikan OAT lini kedua. Yang juga menjadi pertanyaan adalah, lalu apakah bisa juga terjadi resistensi pada OAT lini kedua, dan apa yang bisa dilakukan selanjutnya? Resistensi terhadap OAT lini kedua tentu saja bisa terjadi, di mana resistensi ini telah menjadi lebih luas lagi sehingga disebut sebagai extended drug resistant (XDR). Menurut beberapa laporan dikatakan bahwa, XDR telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia, meskipun belum terdapat angka yang pasti. Bila XDR-TB ini telah terjadi, maka belum ada lagi OAT lini selanjutnya yang dapat diberikan, sehingga, yang perlu dilakukan saat ini adalah mencegahnya agar tidak menjadi lebih luas lagi.

Maka, meski kemajuan besar telah dicapai oleh negara kita dalam hal penanggulangan TB, namun bukan berarti kewaspadaan dan perhatian kita terhadap penyakit yang sudah terbilang ‘sepuh’ ini boleh mengendur. Lagi-lagi edukasi adalah hal yang penting. Maka bagi kita yang telah mengerti, janganlah bosan memberitahu dan mengingatkan. Berikut ini beberapa hal yang penting:

1. TB disebabkan oleh kuman, bukan merupakan penyakit keturunan, apalagi kutukan

2. TB dapat disembuhkan dengan berobat secara TERATUR hingga TOTAL

3. OAT (Obat Anti Tuberkulosis) dibagikan secara GRATIS bagi para penderita TB

4. Bantu pencegahan penularan TB dengan menutupi mulut dan hidung bila batuk atau bersin, atau lebih baik lagi memakai masker, baik bagi penderita TB, maupun keluarga dari penderita TB

5. Anjurkan pada keluarga yang anggotanya terdapat penderita TB, untuk juga segera memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan profilaksis (pencegahan) TB.

6. Lengkapi 5 imunisasi dasar bagi bayi (di mana termasuk imunisasi terhadap TB: BCG) untuk mencegah terjadinya penyakit TB yang berat di kemudian hari (misal TB otak, TB tulang).

 

 

 

——————– terinspirasi setelah beberapa kali mengikuti visite di bangsal PALM dan kegiatan poli paru RSUD Soeselo, Slawi ——————

 

 

2 thoughts on “Penyakit ‘sepuh’ itu bernama TB

  1. tyaaaaaaa….finally i’m coming..hehehe *telat.com
    besok senin saya bangsal palm ty #pentingabis :p..

    iyaa TB paru kok ga musnah-musnah ya..jangan-jangan TB itu virus yang ga bisa diobatin pake OAT. wkwkwk.. pasien TB merajalela sampe-sampe kalo jaga UGD bisa langsung mendiagnosa pasien sesak+muntah darah= TB :))

    btw ta’ link ya blog keren nya…uhuuuyyy..makasiii tya ^^

    • kinkiinkk,,,,ha? virus?? wew…. ==’….ga bs pake OAT soalna jd pd resisten gara2 masyrktna yg ga patuh… (nyalahin.com…www…)
      Ngga ko kink,,ini mah biasa2 aja,byk kurangnya,,saia mlh mo bljr darimu kink2,,, ;’)….maaci eaa… :pp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s