Perokok Pasif VS Perokok Aktif: Pertikaian dalam Perjalanan ke Barat


Perjalanan ke barat? Kaya kisahnya Sun Go Kong dong? Eits,, tunggu dulu. Itu perjalanan ke barat bukan perjalanan jalan kaki dari Cina ke India buat ngambil kitab suci. Tapi perjalanan dari kota tempat sy kuliah, yaitu Semarang, menuju kota asal tempat tinggal saya, yang walaupun segimana macet dan polusinya,tetap sy rindu,…Bekasi!:)

Haishsh,,,jadi sentimentiliamania,,,,lanjut saja,ini perjalanan bukan pula jalan kaki, tapi perjalanan dengan kereta api ekonomi yang super hemat tapi ekspress favorit sy selama ini: Tawang Jaya. Memang layaknya kereta kelas ekonomi, kelas 3, walaupun dijadwalkan berangkat dari stasiun Poncol jam 19.00 dan sampai Senen jam 02.30, namun pada kenyataannya seringkali telat sampai tujuan karena kalah ningrat dari kereta eksekutif n bisnis, jadi seringkali ditahan untuk mempersilakan si ekse n si bisnis untuk lewat lebih dulu. Dengan selalu padatnya penumpang baik yang mendapat tiket dengan nomer duduk,maupun yang berdiri, tapi kereta ini tetap ngetop di kalangan rakyat dan mahasiswa luar kota yang belum berpenghasilan dan kepingin irit seperti sy. Di kereta ini pun selalu dipenuhi penjual makanan dan minuman keliling yang masuk ke kereta, apalagi karena kereta favorit ini biasa berhenti di hampir tiap stasiun yang dilewati. Tapi lagi-lagi karena ‘nilai plus’ itu juga yang membuat kereta ini menjadi pilihan setia sy, karena sy bisa turun dengan leluasa di stasiun Bekasi, yang berjarak dekat dari rumah sy.

Jadi dari sekian lama dan sering saya naik kereta ini, mengapa pula kali ini sy ingin berbagi cerita tentang perjalanan sy kali terakhir ini di tulisan ini? Karena terjadi sesuatu dalam perjalanan ini.

Ceritanya kali ini sy kebagian duduk di Gerbong 3 nomor 16E. Bagi yang pernah naik kereta ekonomi,pasti familiar dengan nomor duduknya yang selain terdiri dari nomor tapi juga ada abjad yang sampai E. Yak, bila di ekse atau bisnis, hanya ada A, B, C, dan D, di mana tempat duduk berpasangan samping menyamping dan belakang membelakangi. Ke samping adalah urutan abjad AB dan CD yang dipisahkan oleh lorong, ke depan dan belakang itulah yang merupakan urutan nomor 1,2, dan seterusnya. Nah, di kereta ekonomi, urutan abjad ke samping, ada dari A sampai E, sehingga pasangan duduk yang menyamping menjadi tempat duduk untuk 3 orang (A, B,C), dan terpisahkan oleh lorong kereta adalah tempat duduk untuk 2 orang lainnya (yaitu D dan E), sehingga A dan E berada di tempat duduk yang dekat jendela.

Seperti yang saya katakan bahwa saya duduk di nomor 16E, di samping sy (16D) adalah seorang bapak-bapak berusia kira-kira setengah baya dan dua orang di depan sy (15E dan 15D) adalah seorang ibu berusia kira-kira setengah baya pula namun dengan anaknya yang masih berusia 6 tahun. Saat kereta memasuki daerah Batang (kira-kira 1 jam perjalanan dari mulainya kereta berjalan), hujan mulai turun, awalnya hanya rintik-rintik namun makin lama makin deras hingga membuat jendela-jendela kereta harus ditutup agar air hujan tidak masuk.

Saat jendela sudah tertutup semua, sy mulai mencium aroma yang sangat menyebalkan dan sy benci jika ada di dalam ruang tertutup dan pengap seperti ini (kereta padat penumpang dengan jendela-jendela tertutup semua). Aroma apa sih? Bau ketiak? Bau keringat? Bau kencing dari kamar mandi kereta? Ow..ow… bukan… kalau bau-bau seperti itu,sudah sy maklumi sebagai seorang pengendara setia kereta ekonomi di Indonesia. Tapi yang sy maksudkan adalah…bau ASAP ROKOK!!!

Sy berdiri,mencari asal-muasal bau si asap, menengok ke kanan-kiri, menjulurkan kepala ke depan, menoleh ke belakang,,dan ow..ternyata si pelaku berada di tempat duduk belakang saya (nomor 18D dan 18E),,yak DUA orang!

Ckck… teganya mereka masih asyik mengebul-ngebulkan asap rokok mereka di situasi seperti ini. Sy lihat di samping mereka (terpisah lorong, nomor 18A,18B, dan 18C) duduk keluarga dengan 2 anak kecil-kecil yang terlihat gelisah karena pengapnya udara sedang dicoba ditenangkan oleh ibu mereka, dan dua orang yang duduk di hadapan mereka (17D dan 17E) adalah seorang bapak yang terlihat beberapa kali batuk-batuk dan seorang pemuda yang duduk dengan cuek bebek namun sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan tangan.

Sy pun kemudian melihat ke arah kedua orang ‘pelaku kejahatan’ itu yang masih dengan ‘semau gue’ menyebar-nyebarkan asap-asap beracun. Awalnya mereka tak melihat pada sy, namun kemudian karena dengan berdiri masih sy pelototin sambil memberi isyarat mengusir-ngusir asap rokok dengan tangan, akhirnya mereka menoleh. Sy pun mengisyaratkan dengan mata ke arah rokok yang dipegang mereka agar mematikan rokok atau minimal pergi dulu ke tempat lain yang sepi untuk merokok (misal dekat pintu kereta), namun entah karena memang tebal muka atau bagaimana sy ga ngerti, mereka memalingkan wajah dan masih asyik berkebul-kebul ria. Sy lihat, kira-kira dua orang itu seumuran berapa, yah,,kira-kira dua puluhan, dan dilihat dari penampilan dan sikapnya kira-kira pendidikan yang pernah dienyam minimal ada SMP kali ya, minimal lho… mmm…mencari kata-kata yang kira-kira bisa dimengerti.

“Mas, mas..”, sy panggil kedua orang itu.

Kedua orang itu menoleh dengan agak kaget. Pemuda 1 menyahut, “Ya mbak? Manggil sy?”.

“Iya, mas-mas’e berdua”

“Kenapa y,mbak?”, bertanya dengan lagak pilon, atau memang benar pilon? Entah sy ga ngerti.

“Mas, kalo masnya mau sakit, mbok jangan ngajak-ngajak orang lain…”, sy memulai.

Si pemuda 1 kebingungan, “ah, sy nggak mau sakit kok..”, si pemuda 2 di sampingnya juga ikut-ikutan mengangguk-angguk.

“Lha,, tapi masnya ngerokok itu kan bikin dirinya sendiri sakit. Sering denger kan rokok bikin sakit kanker paru, impotensi, dll…?”, sambil mikir nyari-nyari bahasa medis yang sering dibilangin berkaitan dg rokok.

Pemuda 2 yang akhirnya menangkap sedikit maksud sy menjawab, “ooh…yang sering di iklan-iklan n tulisan kecil-kecil di sampulnya rokok itu? Haha…”, yah,,,dia malah ketawa, gue kira dia rada ngerti.

“Betul, nah ntu hapal iklannya. Tau gitu kok masih ngerokok?”

“Yaelah,mbak, itu mah kan efek jangka jangka panjang nya,mbak. Lagian kan itu cuma kena orang-orang yang ngerokoknya keterlaluan banget mbak. Sy kan masih muda, ga bakal ngerokok sampe tua ini”, si pemuda 1 rupanya sudah menemukan suaranya kembali.

Menghela napas, sy pikir, bakalan panjang nih, “maaf ya,masnya kalo sy boleh tau sekolahnya pasti lulus SMA? Udah ngerokok berapa lama? Emang menurut situ efeknya tu rokok baru muncul kalo ngerokoknya berapa lama?”, tebak sy nekat, masih smbil berdiri. Orang-orang sekitar mulai ngliatin, bahkan ada yang senyam-senyum,,bukannya bantuin kek,ckck…

Pemuda 2 menjawab dengan agak piye,mungkin mengira nih mbak-mbak nyebelin banget, “SMA lah, sy ngerokok baru dua taun kok,,,lha itu kan jadi sakit kalo puluhan taun ngerokoknya?”, sambil jawab, nih dua orang masih aja terus asyik ngerokok.

“Masnya kata siapa rokok cuma punya efek jangka panjang? Ambil kesimpulan dari mana? Efeknya rokok tuh udah mulai ada sejak masnya mulai ngerokok. Itu bahan-bahan racun di rokok sudah mulai bercokol dalam tubuh mas-masnya sejak detik pertama masnya ngerokok, nyebabin banyak gangguan dalam sistem di dalam tubuh mas-masnya. Yang sering dibilang di iklan: penyakit jantung, kanker paru, impotensi, itu emang akibat akhir dari adanya penumpukan zat-zat beracun hasil si rokok. Tapi efeknya si rokok sekarang pun udh ada tau, bisa dibuktiin kalo masnya cek kesehatan. Tau kan artinya cek kesehatan? Coba ntar setelah sampe Jakarta, masnya cek, tekanan darah, kadar kolesterol dan lemak-lemak jahat dalam darah masnya, kemampuan paru mas-masnya, foto rontgen dada,coba cek semuanya. Kalo ternyata ga ada kelainan dan sama sekali normal, silakan masnya datang ke sy, sy yang bayarin biaya cek kesehatannya. Malah sy punya kenalan dokter, ada banyak, di Semarang maupun Jakarta, terserah masnya mau di mana,sy ajakin cek kesehatan di sana dan tanya-tanya efek-efek tu rokok yang bener kaya gimana. Mau?”, hah, sampe ngos-ngosan ngomong, lama-lama bikin esmosi jiwa nih, apa susahnya sih dimatiin doang rokoknya?

Mereka berdua keliatan bingung, tapi si pemuda 1 masih punya suara rupanya, “tapi mbak, seandainya emang sy jadi sakit, terserah sy juga dong, kan yang ngerokok sy, badan juga punya sy.”

Ampun dah ni orang, emang kaga tau, apa tau tapi egois ya? “Lha itu masalahnya,, kalo masnya sendiri kepingin sakit, ya monggo, terserah masnya aja, (sy juga jadi ga peduli, tambah sy dlm hati,ups..). Tapi masalahnya, si rokoknya mas tu punya asap. Ibarat kata ga ada asap tanpa api,, nah api pembakarannya tu ada di rokok mas-masnya. Selama ga dimatiin,asapnya tetap ada. Dan masnya kan tau, bisa lihat juga kan, ini kereta lagi ditutup semua jendelanya dan padat penumpang pula, udara aja udah susah keluar masuk, tambah lagi asap nya yg dari rokok, gimana ga bikin sesak napas orang-orang? Masnya tau gak, asap rokok tu lebih bahaya daripada asap mobil atau motor, yang keluar dari mesin yang paling bobrok sekalipun?? Itu liat kan, di samping mas-masnya ada anak-anak kecil, depannya mas-mas berdua ada orang batuk-batuk, dan ini di depan sy sendiri ada anak kecil juga. Lha, itu asapnya kan jd makin banyak kehirup kami. Dengan kami menghirup asapnya,apa masnya ga mikir kami yang lain juga kena efeknya tu rokok? Justri kami yang lebih dirugiin,mas. Kalo masnya sakit gara-gara rokok kan udah ngerasa ikhlas-ikhlas aja, rela-rela aja, tapi kami? Kami ga mau ngerokok,kenapa harus ikutan sakit? Jadi tolong deh, kalo masnya masih mo ngerokok, ya ke tempat lain dulu yang sepi, jangan di sinilah.”

“Tapi kan mbak, itu orang yang di sono-sono (dia nunjuk jauh ke belakangnya), juga ngerokok tapi ga papa. Kok sy ga boleh?”, si pemuda 1 ini ngeyel abis deh,ckck…

“Yeh,,kalo ada orang lain yang melakukan perbuatan, bukan berarti perbuatan itu jadi bener,mas. Dan ga usah nyari alasan dengan orang lain. Masnya SMA pasti tau banget hak asasi kan?hmm?” buset deh,masa mesti bawa-bawa pelajaran PPKn sih? “Tau kan, kalo hak untuk hidup, adalah hak asasi? Semua orang berhak hidup,dan bagaimana menjalani hidup. Nah,kami yang ga ngerokok,kepingin hidup sehat ga kena asap rokoknya masnya ini. Masnya juga berhak banget hidup dan mo ngejalanin hidup kaya apa juga terserah. Tapi tolong jangan ngelanggar hak orang lain juga dong,,,”.

Cengar-cengir, ga tau harus bilang apa mungkin, akhirnya mereka nginjek punting rokoknya juga. “Makasih,lho mas, ternyata masnya bisa ngerti juga ya,”akhirnya sy duduk kembali. Si bapak-bapak di depannya dan orang-orang lain cuma senyum-senyum dikulum. Heran, segitu dirugiinnya mereka sama asap rokok,sy yakin pasti banyak yang ga suka asap rokok juga, tapi ternyata cuma diem aja, ckck….

— ◊ —

Tanpa bermaksud mengejek pihak manapun, sy hanya mau berbagi satu pengalaman sy dlm ‘berdebat’ dengan para perokok aktif. Niatnya sebenarnya untuk memberi edukasi, apalagi nantinya memang dlm profesi sy dituntut komunikasi yang baik terutama dalam mengedukasi. Namun karena masih minimnya pengalaman dan kemampuan, malah jadi berdebat. Jadi hikmahnya….

  1. Ancaman penyakit2 akibat rokok di iklan, walaupun itu pesan dari depkes, ternyata ga ngefek buat para pecandu rokok, ga bikin mereka serta merta jadi berhenti.
  2. Kurang sosialisasi efek rokok buat para perokok pasif.
  3. Rasa kepedulian rakyat terhadap kesehatan minimalis banget berkaitan dengan pengetahuan yang minim juga.
  4. Jangan ragu-ragu menegur, memberitahu, atau mengingatkan bila kita punya pengetahuan dan landasan yang kuat.
  5. Jangan terbawa esmosi seperti sy bila sedang menegur atau mengingatkan orang lain..🙂

…ada yang mau menambahkan…?

One thought on “Perokok Pasif VS Perokok Aktif: Pertikaian dalam Perjalanan ke Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s