instead of my greatness, it’s because of my great parents’ prayers


Yup, sangat simpel memang, tapi sering terlupakan. Bahwa salah satu peran besar yang telah mengantarkan kita hingga tahap ini, adalah karena doa ortu. Terutama bila sejak kecil kita terbiasa menerima berbagai penghargaan atas prestasi kita. Maka tiap penghargaan yang kita terima itu biasanya mempengaruhi pikiran kita, dan perasaan untuk berbangga diri makin besar. Perasaan bahwa semua yang telah kita raih saat ini adalah karena kehebatan kita sendiri, memang suatu hal yang wajar, dan nyaris semua orang pernah merasakannya termasuk saya pribadi. Apakah yang saya bilang ini benar untuk kalian atau tidak, silakan dijawab sendiri dalam hati masing-masing. Tapi untuk memikirkan bahwa dibalik kehebatan kita itu ada suatu kekuatan besar doa ortu, seringkah kita sadari…?

Saat pertama kali kaki kita melangkah memasuki TK, SD,  kita masih secara rutin mencium tangan kedua ortu untuk pamitan, yang makna sebenarnya lebih dalam lagi adalah untuk mencari ridho dan doa restu dari beliau berdua,, tapi mungkin kita lakukan lebih karena kebiasaan sehari-hari dan ajaran saat masih kecil. Kemudian kita menjejak SMP, menjadi anak ABGeh, merasa dunia ini penuh warna-warni yang ingin kita susuri, mulai lupa untuk meraih dan mencium tangan ortu saat berangkat memulai hari. Saat SMA, hari-hari begitu penuh tantangan dan keingintahuan seorang remaja yang mulai mencari jati diri. Hanya mengucapkan salam saat akan berangkat sekolah saja sudah lumayan, makin jarang meminta doa kedua ortu. Memasuki kuliah, hidup terpisah dari ortu dan belajar mandiri. Awalnya masih sering menelpon dan memberi kabar, makin lama makin lupa menghubungi mereka yang menunggu dan mendoakan dari rumah, bahkan bila kita yang ditelpon kadang tak diangkat karena merasa sedang sibuk. Tak terkecuali saya, kadang tak mengacuhkan dering telepon dari nun jauh di sana karena merasa sedang sibuk. Padahal apalah arti satu menit untuk sekedar mengangkat sebentar dan memberitahu bahwa kita nanti akan menelpon balik saat telah luang?

Berapa kali dalam seminggu kita menghubungi ortu? Menanyakan kabar di rumah? Atau minimal memberitahu kabar kita sendiri? Saat ujian yang penting, sebagian dari kita ada yang masih menyempatkan diri menelpon untuk meminta doa, tapi lebih banyak yang terlupa. Namun ternyata, terlepas dari seberapapun seringnya kita lupa untuk menghubungi atau sekedar menyapa, ortu kita tetap mencurahkan doa-doanya untuk diri kita, memikirkan diri kita, entah saat sedang bekerja,atau kapanpun dan di manapun. Sedangkan kita? Berapa kali dalam sehari kita memikirkan mereka? Atau bahkan berapa kali seminggu? Berapa kali doa kita terlantun untuk mereka? Padahal dibalik kedudukan atau kesuksesan apapun yang kita raih saat ini, ada ridho dan doa-doa dari ortu… Apalah artinya kehebatan diri kita bila tanpa restu dari ortu selama ini?

# tulisan iseng, karena malem ini mo pulang ke rumah sebelum proses trakhr (kompre), jd teringat bahwa hingga saat ini perjalanan sy termasuk mudah selama ini karena dibarengi doa-doa beliau berdua yang sangat amat luar biasa. thx 4 my M & D, love u always, maapin sy krn blm brbakti….

2 thoughts on “instead of my greatness, it’s because of my great parents’ prayers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s