Larvasidasi Berdasakan Data Kasus DBD di Desa Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Periode April 2010


Ini adalah penelitian kesehatan masyarakat yang dilakukan saat saya stase Ilmu Kesehatan Masyarakat di Jepara bulan April 2010. Data-data yang saya kumpulkan saat melakukan penelitian ini telah diusahakan serelevan mungkin dengan metode yang telah melalui diskusi panjang dengan seorang dosen pakar yang juga berpengalaman dalam penelitian kesehatan masyarakat mengenai DBD. Bagi yang memerlukan laporan ini secara lengkap, silahkan hubungi langsung via blog/fb/apapun yang dimiliki.

BAB I

PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis.

Daerah endemis DBD tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa.[1] Insidence Rate (IR) demam berdarah dengue selama tahun 2008 adalah sebesar 60,06 per 10.000 penduduk.

Walaupun jumlah tersebut telah mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2007 (IR=71,78 per 10.000 penduduk), akan tetapi angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (IR tahun 2006=52,48 per 10.000 penduduk; tahun 2005=43,42 per 10.000 penduduk; dan tahun 2004=37,11 per 10.000 penduduk).[2] Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar 5,92 per 10.000 penduduk. Angka ini menurun bila dibandingkan tahun 2007 (6,35 per 10.000 penduduk). Meskipun demikian, angka tersebut masih jauh di atas target nasional yaitu < 2 per 10.000 penduduk. Angka kesakitan tertinggi terjadi di Kota Semarang yaitu sebesar 34,73 per 10.000 penduduk, disusul kemudian oleh Kabupaten Jepara (18 per 10.000 penduduk), Kota Magelang (16,64 per 10.000 penduduk), dan Kota Surakarta (15,59 per 10.000 penduduk).[3]Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, hampir semua desa di wilayah kerja Puskesmas Pakis Aji merupakan daerah endemis.[4]

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadinya peningkatan kasus.[5]Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vektor. Untuk pengendalian vektor dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan cara kimia, biologis, dan pengelolaan lingkungan.Pengelolaan lingkungan dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). PSN demam berdarah dengue adalah kegiatan mamberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) di tempat – tempat perkembengbiakannya.PSN dilakukan melalui kegiatan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat penampungan air yang dapat menjadi sarang nyamuk tersebut.5,[6] Pengendalian vektor dengan cara biologis yaitu melalui pemeliharaan ikan pemakan jentik ataupun bakteri, sedangkan cara kimia adalah melalui fogging dan larvasidasi.6,[7]

Larvasidasi adalah pemberantasan jentik dengan menaburkan bubuk larvasida.6 Bila fogging dilakukan untuk memberantas nyamuk dewasa, maka larvasidasi bertujuan untuk memberantas jentik (larva) nyamuk terutama di tempat-tempat penampungan air yang tidak dapat dikuras atau dibersihkan, juga dianjurkan pada daerah yang sulit air.Oleh karena itu, larvasidasi merupakan upaya yang saling berkaitan dengan kegiatan PSN dan fogging.6,7 Sehubungan dengan upaya penanggulangan demam berdarah tersebut maka diselenggarakanlah kegiatan larvasidasi di Desa Suwawal Timur berdasarkan data kasus DBD yang terjadi pada tahun 2009-2010.

B.       BATASAN JUDUL

Laporan dengan judul “Larvasidasi Berdasakan Data Kasus DBD di Desa Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Periode April 2010” mempunyai batasan-batasan sebagai berikut:

  1. Larvasidasi

Adalah pemberantasan jentik dengan menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang tidak dikuras atau sulit dibersihkan. Bubuk abate yang digunakan adalah Temephos 1% SG.

2. Data kasus DBD

Adalah data kasus demam berdarah dengue periode Januari 2009-Maret 2010 yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dan kader jumantik warga. Jumlah kasus DBD di Kecamatan Pakis Aji adalah 154 buah kasus. Sedangkan jumlah kasus di Desa Suwawal Timur sendiri adalah 32 kasus.

3. Desa Suwawal Timur

Adalah lokasi pelaksanaan kegiatan, yang merupakan salah satu wilayah kerja Pusekesmas Pakis Aji. RT/RW yang dilakukan larvasidasi adalah RT6/RW3, RT7/RW4, RT8/RW4.

4. Periode April 2010

Adalah periode dilakukannya larvasidasi mulai dari survei tempat penampungan air yang tidak atau sulit dibersihkan, sampai ditaburkannya bubuk abate pada tempat penampungan air tersebut. Pelaksanaan akan dimulai tanggal 11 April hingga 16 April 2010.

C.      RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi :

  1. Lingkup lokasi     :    RT6/RW3, RT7/RW4, RT8/RW4 Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara.
  2. Lingkup waktu    :    tanggal 11 April-16 April 2010.
  3. Lingkup sasaran   : Tempat-tempat penampungan air warga yang sulit atau jarang dibersihkan.
  4. Lingkup materi    : Angka kasus DBD di Suwawal Timur, manfaat pemberantasan demam berdarah, dan cara penggunaan bubuk abate.
  5. Lingkup metode  : survei tempat penampungan air warga yang sulit atau jarang dibersihkan, penyuluhan singkat mengenai demam berdarah dan cara penggunaan abate, pembagian sekaligus penaburan bubuk abate pada tempat penampungan air tersebut, pengamatan langsung, dan pencatatan.

D.  TUJUAN KHUSUS

    1. Mendapatkan data kasus DBD di Desa Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji Periode Januari 2009-Maret 2010.
    2. Mendapatkan abate yang diperlukan untuk melakukan larvasidasi.
    3. Melakukan persiapan pembungkusan abate tiap 15 g.
    4. Mendapatkan cara menaburkan bubuk abate yang benar dan sesuai dosis.
    5. Mendapatkan data tempat penampungan air warga yang sulit atau jarang dibersihkan.
    6. Melakukan penyuluhan singkat mengenai demam berdarah, cara penularan, cara pencegahan termasuk PSN dan larvasidasi, serta cara menaburkan abate.
    7. Memberikan bubuk abate pada tempat penampungan air warga yang sulit atau jarang dibersihkan.
    8. Menjelaskan pada warga alternatif cara mengkoordinir untuk mendapatkan abate setelah tiga bulan.

    E.       TINJAUAN PUSTAKA
    1. 1.         Demam Berdarah Dengue


1)   Definisi dan etiologi penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. Puncak kasus DBD terjadi pada musim hujan yaitu antara bulan September sampai dengan Maret. Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut. Serotipe Den-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak menunjukkan manifestasi klinik yang berat.

2)   Cara penularan

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.

3)   Diagnosis

Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.

Kriteria klinis  :

  1. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2 – 7 hari.
  2. Manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji tornikuet positif dan salah satu bentuk lain (petekia, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi), perdarahan mukosa, saluran cerna, hematemesis, dan atau melena.
  3. pembesaran hati.
  4. Renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistol menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba dingin atau lembab terutama pada ujung hidung,jari dan kaki, penderita menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut.
  5. 2.    Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti berwaran hitam dan belang-belang putih pada seluruh tubuhnya. Nyamuk Aedes aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan/got, atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah. Nyamuk betina meletakkan telurnya di dinding tempat penampungan air (TPA) atau barang-barang yang memungkinkan air tergenang sedikit di bawah permukaan air. Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk memerlukan waktu 7-10 hari. Jentik Aedes aegypti berukuran 0,5-1 cm, selalu bergerak aktif dalam air, dan pada waktu istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air.(PSN-DBD)

  1. 3.    Larvasidasi

Pemakaian bahan kimia untuk memberantas larva nyamuk dikenal sebagai larvasidasi. Bahan kimianya disebut larvasida. Pada umumnya nyamuk membutuhkan air pada periode perkembangannya. Keuntungan pemakaian larvasida antara lain:

  1. Semua larva dari berbagai stadium dapat dibunuh
  2. Daerah yang dilarvasidasi terbatas pada tempat perindukan (breeding places).

Sedangkan kerugiannya adalah pengaruh larvasida bersifat sementara sehingga membutuhkan aplikasi ulangan dan beberapa larvasida mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan terutama terhadap predator complex.(anti larva) Larvasidasi dilakukan pada tempat penampungan air yang tidak dapat dikuras/ jarang dibersihkan, juga dianjurkan pada daerah yang sulit air. Bila wadah telah diberi larvasida maka jangan dikuras selama 2-3 bulan. Kegiatan ini tepat digunakan apabila surveilans epidemiologi penyakit penyakit dan vektor menunjukkan adanya periode berisiko tinggi dan di lokasi dimana KLB mungkin timbul. Menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk pelaksanan larvasidasi sangat penting untuk memaksimalkan efektivitasnya.6

Kegiatan larvasidasi meliputi :

  1. Larvasidasi Selektif

Larvasidasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat penampungan air (TPA) baik di dalam maupun di luar rumah pada seluruh rumah dan bangunan di desa/kelurahan endemis dan sporadis serta penaburan bubuk larvasida pada TPA yang ditemukan jentik dan dilaksanakan 4 kali dalam 1 tahun (3 bulan sekali). Pelaksana larvasidasi adalah kader yang telah dilatih oleh petugas Puskesmas. Tujuan larvasidasi selektif adalah sebagai tindakan sweeping hasil penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk.

  1. Larvasidasi Massal

Larvasidasi massal adalah penaburan bubuk larvasida secara serentak diseluruh wilayah/daerah tertentu di semua tempat penampungan air baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh bangunan termasuk rumah, kantor-kantor dan sekolah. Kegiatan larvasidasi massal ini dilaksanakan di lokasi terjadinya KLB.

Terdapat 2 jenis larvasidasi (insektisida) yang dapat digunakan pada wadah yang dipakai untuk menampung air bersih (TPA) yakni :

(1)      Temephos 1%

Formulasi yang digunakan adalah granules (sand granules). Dosis yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (± 1 sdm rata) untuk tiap 100 L air. Dosis ini telah terbukti efektif selama 8-12 minggu (2-3 bulan).

(2)      Insect Growth Regulators ( Pengatur Pertumbuhan Serangga )

Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalang pertumbuhan nyamuk dimasa sebelum dewasa dengan menghambat proses chitin synthesis selama masa jentik berganti atau mengacaukan proses perubahan pupa menjadi nyamuk dewasa. Contoh IGRs adalah Methroprene dan Phyriproiphene. Secara umum IGRS akan memberikan efek ketahanan 3-6 bulan dengan dosis yang cukup rendah bila digunakan di dalam tempat penampungan air.

Bubuk abate yang digunakan pada kegiatan ini adalah Temephos 1% SG. Temephos merupakan larvasida golongan organofosfat. Temephos mempunyai sifat daya racun yang rendah terhadap binatang berdarah panas, ikan dan organisme non target lain. LD50 terhadap tikus putih adalah 1300mg/kg BB per oral, dan lebih dari 4000 mg/kg BB apabila melalui kulit.


[1] Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Laporan kajian kebijakan penanggulangan (wabah) penyakit menular (studi kasus DBD). Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta, 2006.

[2] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan Indonesia tahun 2008. Jakarta, 2009.

[3] Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 2008. 2009.

[4] Bagian P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara. Demam Berdarah Dengue per desa per puskesmas di Kabupaten Jepara tahun 2009-2010.

[5]Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI. Modul pelatihan bagi pelatih pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD) dengan pendekatan komunikasi perubahan perilaku. Jakarta, 2008.

[6] Ghandi. Makalah demam berdarah dengue [article on the internet; 2010]. Available from: http://wadung.wordpress.com/2010/03/22/makalah-demam-berdarah-dengue/

[7] Kristina, Isminah, Wulandari L. Kajian masalah kesehatan: Demam berdarah dengue [article on the internet]. Available from: http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s