PERNAH GANGGUAN JIWAKAH ANDA?


Nah, pertanyaan di atas mungkin membuat sebagian besar dari anda menjawab ‘tidak’. Para penghuni rumah sakit jiwa saja mayoritas dari meraka tak akan mengakui dirinya menderita gangguan jiwa, apalagi kita yang notabene hidup ‘normal’, tidak pernah bicara sendiri, atau tertawa sendiri, atau macam-macam gejala lain yang pernah kita dengar atau lihat. Namun, benarkah anggapan kita selama ini? Bahwa kita selalu sehat jiwa? Tiba-tiba topik ini mengusik saya setelah siang tadi sedikit mendapat ‘pencerahan’ dari seorang residen psikiatri (ilmu kesehatan jiwa) mengenai ilmu yang sedang saya tekuni.

Menurut the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fourth Edition (DSM-IV),

            Mental Disorder is conceptualized as clinically significant behavioural or psychological syndrome or pattern that occurs in an individual and that is associated with present distress (eg., a painful symptom) or disability (ie., impairment in one or more important areas of functioning) or with a significant increased risk of suffering death, pain, disability, or an important loss of freedom.

 Perlu diperhatikan, bahwa istilah yang digunakan adalah ‘disorder’ yang kita artikan sebagai gangguan, dan bukan ‘disease’ yang berarti penyakit. Dan konsep “Disability” dari The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders” adalah:

Gangguan kinerja (performance) dalam peran sosial dan pekerjaan tidak digunakan sebagai komponen esensial untuk diagnosis gangguan jiwa, oleh karena hal ini berkaitan dengan variasi sosial-budaya yang sangat luas.

Yang diartikan sebagai “Disability” adalah keterbatasan/kekurangan kemampuan untuk melaksanakan suatu aktivitas pada tingkat personal, yaitu melakukan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup (mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, buang air besar dan kecil).

Maka, intinya dari omong-omong di atas bisa dirumuskan tentang konsep gangguan jiwa:

  1. Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa:
  • Sindrom (kumpulan gejala) atau pola perilaku
  • Sindrom atau pola psikologik
  1. Gejala klinis tersebut menimbulkan “penderitaan” (distress), antara lain dapat berupa: rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tenteram, terganggu, disfungsi organ tubuh, dll.
  2. Gejala klinis tersebut menimbulkan “disabilitas” (disability) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup (mandi, makan, berpakaian, dll.)

Untuk bisa lebih memahami, bisa kita lihat dari contoh berikut ini:

Apabila suatu saat misalnya saya stress karena akan ujian esok hari namun belum belajar, dan hal itu merupakan masalah bagi diri saya, membuat saya merasa menderita dan tidak tenteram, hingga menimbulkan ketidakmampuan saya untuk menjalankan fungsi-fungsi saya sebagaimana biasa (tidak mandi, tidak makan, tidak berganti pakaian,dsb); maka pada saat itu saya bisa dikatakan sedang menderita gangguan jiwa, walaupun hanya untuk waktu yang singkat. Apalagi jika pada periode sebelumnya saya sudah mendapat stressor terlebih dahulu, misalnya selama 2x ujian terakhir saya gagal, atau sebelumnya saya sering bertengkar dengan orang tua karena keinginan yang tidak tercapai, maka kemudian suatu hal yang kecil dapat langsung menimbulkan gejala-gejala gangguan jiwa pada saya (dinamakan faktor pencetus). Tetapi  apabila masalah saya belum belajar untuk ujian saya anggap biasa saja dan tidak menyebabkan saya menderita (distress) atau disabilitas, maka saya hal tersebut bukan merupakan gangguan jiwa.

Kemudian ada pula suatu contoh lain, yaitu misal pada seorang homoseksual, di mana ia memiliki penyimpangan orientasi seksual. Apakah menurut anda mereka semua menderita gangguan jiwa? Ternyata jawabannya adalah tidak. Tidak semua homoseksual menderita gangguan jiwa. Mengapa? Karena di antara mereka ada yang tidak merasakan penyimpangan seksual mereka sebagai suatu penderitaan bagi diri mereka (homoseksual tipe egosintonik), mereka malah mengakui dan menikmati penyimpangan orientasi seksual tersebut. Sementara di sisi lain ada pula sebagian dari mereka yang merasa menderita dengan kelainannya (homoseksual tipe egodistonik), tertekan karena ia ingin normal dan sama dengan orang lain pada umumnya, tidak menyukai penyimpangan dirinya, hingga menimbulkan distress dan disabilitas. Golongan yang terakhir inilah yang dapat disebut menderita gangguan jiwa.

Berkaitan dengan gangguan jiwa, stressor dan faktor pencetus merupakan hal yang penting bagi terjadinya suatu gangguan jiwa. Stressor dan faktor pencetus ini biasanya merupakan masalah yang dihadapi oleh seseorang sebelum munculnya gejala gangguan jiwa dan bahkan bisa berupa suatu kejadian/peristiwa dalam hidup seseorang, tidak selalu harus merupakan hal yang berat. Karena penerimaan setiap orang terhadap suatu masalah ataupun kekurangan yang ada pada dirinya berbeda-beda, maka masing-masing individu memiliki ambang batas yang berbeda-beda pula. Hal ini menyebabkan tidak semua orang dengan satu masalah yang sama akan menjadikan mereka menderita gangguan jiwa. Namun, ada pula stressor yang bersifat katastropik, di mana stressor tersebut akan berdampak berat bagi hamper semua orang, misalnya mengalami kejadian bencana secara langsung. Para korban tsunami Aceh misalnya, semua orang yang pernah menjadi saksi mata langsung dari bencana tersebut, apalagi menyaksikan adanya korban dari pihak keluarga atau orang terdekatnya, tentunya tak akan dapat melupakan dan mengabaikan begitu saja kejadian tersebut. Tidak terkecuali bagi orang lain yang jika bertukar posisi sebagai korban, maka sebagian besar orang tersebut akan menjadi depresi, atau mengalami trauma kejiwaan, hingga menyebabkan suatu gangguan jiwa.

Gejala perilaku maupun psikologik pada orang dengan gangguan jiwa berbeda-beda, yang dalam ilmu psikiatri dikenal sebagai simtom (symptom). Secara garis besar, gangguan ini dapat berupa:

  1. Gangguan persepsi:
  • Ilusi (interpretasi yang salah dari suatu rangsang pada panca indera, ada objeknya).
  • Halusinasi (persepsi panca indera terhadap suatu rangsang yang tidak ada, tidak ada objeknya).

2. Gangguan proses berpikir:

  • Kelainan bentuk pikir (non-realistik)
  • Kelainan arus berpikir, misal: pikiran yang meloncat-loncat (flight of ideas), pikiran yang kacau (inkoherensi), pikiran yang berputar-putar (circumstantiality), dsb.
  • Kelainan isi pikiran, misal: obsesi, fobia, waham (keyakinan yang salah terhadap sesuatu), dsb.
  1. Gangguan mood (keadaan afektif) dan affect (reaksi emosional), misal: cemas (anxiety), suasana perasaan yang tidak sesuai dengan suasana lingkungan, dsb.
  2. Gangguan sikap dan tingkah laku, misal: apatis, curiga, gelisah, dsb.
  3. Gangguan kesadaran: bingung, berkabut, dsb.
  4. Gangguan orientasi (tempat, waktu, personal, situasional)
  5. Gangguan kontak psikik
  6. Gangguan perhatian ataupun konsentrasi
  7. Gangguan/penurunan kognitif (daya ingat, intelegensi)

Tentu saja gejala-gejala tersebut di atas tidak harus muncul semua pada seseorang dengan gangguan kejiwaan. Dan gejala tersebut harus menyebabkan suatu distress dan disabilitas untuk dapat dikatakan sebagai gangguan jiwa. Maka, hal penting yang harus ditanyakan pada penderita gangguan jiwa selain dari stressor ataupun faktor pencetus adalah adanya keterbatasan atau penurunan fungsi-fungsi (fungsi peran, fungsi perawatan diri, penggunaan waktu luang, dan hubungan sosial) seseorang setelah gejalanya muncul. Maka, bila kita menemui seseorang yang setelah mendapat suatu masalah atau mengalami peristiwa tertentu kemudian memiliki gejala di atas yang mengakibatkan distress dan disabilitas, maka alangkah baiknya bila disarankan untuk segera berkonsultasi dengan seorang dokter ahli jiwa agar gejala tersebut tidak memberat dan kemungkinan untuk kembali pada keadaan awal penderita akan lebih besar.

Sekian bahasan singkat mengenai pengertian gangguan jiwa, kurang lebihnya, bisa dibaca dari sumber yang saya jadikan pustaka tentang tulisan ini, atau sumber lain yang lebih relevan dan aktual. Maka kesimpulannya, pernahkah anda mengalami gangguan jiwa??:)

Sumber:

  1. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Editor: Rudi Maslim. Jakarta: Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya, 2001.
  2. First MB, Francess A, Pincus HA. DSM-IV TR: Handbook of differential diagnosis. Copyright © 2002 American Psychiatric Publishing, Inc. Available from: http://www.psychiatryonline.com/resourceTOC.aspx?resourceID=10
  3. Nemade R, Dombeck M. Symptoms of schizophrenia. Updated 7 Agust 2009. Available from: http://www.mentalhelp.net/poc/view_doc.php?type=doc&id=8808&cn=7
  4. Psikiatri II: Simtomatologi. Semarang: Penerbit FK Undip.
  5. Bahan kuliah ilmu kesehatan jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s