‘Ketindihan’ atau OSAS?


Di antara teman-teman pasti tahu tentang istilah ‘ketindihan’? Ada yang pernah mengalami sendiri, ada juga yang tidak.

Sesak napas yang terjadi tiba-tiba saat tidur disertai rasa seperti berat ditindih, sering kita sebut sebagai ketindihan, dan kejadian tersebut sering dihubungkan dengan makhluk ‘halus’.

Nah, tidak adakah penjelasan logis yang berkaitan dengan hal itu? Dari segi ilmu yang saat ini sedang saya pelajari, ada beberapa penyebab yang dapat menjelaskan bagaimana terjadinya hal tersebut. Mari kita bahas.

Pernahkah anda mendengar mengenai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)?

OSAS merupakan suatu kumpulan gejala (sindrom) yang

terjadi akibat sumbatan (parsial ataupun seluruhnya) saluran napas pada bagian belakang hidung dan mulut yang terjadi saat tidur. Sumbatan ini terjadi akibat kegagalan otot-otot ‘pelebar’ saluran napas untuk mempertahankan jalan nafas pada saat tidur.  Apnea berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “tanpa bernapas”. Apnea diartikan sebagai berhentinya aliran udara pernapasan sehingga menyebabkan berkurangnya saturasi oksihemoglobin. Oleh American Academy of Sleep Medicine (AASM), apnea didefinisikan sebagai berhentinya aliran udara pernapasan selama minimal 10 detik. Hal inilah yang menyebabkan penderita menjadi terjaga dari tidurnya karena merasakan sesak tiba-tiba. Saat jalan napas tertutup, menyebabkan aliran napas berhenti, secara reflex penderita akan terjaga untuk membuka kembali jalan napas. Aliran udara bisa juga tidak berhenti sama sekali namun mengalami pengurangan yang disebut hypopnea. Berkaitan dengan hal ini, ada juga yang menyebut OSAS sebahai OSAHS (Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea Syndrome).

Di Amerika, diperkirakan bahwa sebanyak kurang lebih 80% dari kasus OSAS ini tidak terdiagnosis oleh mayoritas dokter pada tempat pelayanan primer (misal Puskesmas bila di Indonesia). Kalau begitu, bagaimana dengan Indonesia??

Selain gejala terbangun pada malam hari karena sesak tiba-tiba, gejala OSAS yang lainnya adalah tidur mengorok (dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai snoring), mengantuk pada siang hari, sakit kepala saat bangun pagi hari, penurunan libido sampai impotensi dan enuresis, mudah tersinggung, depresi, kelelahan yang luar biasa dan insomnia. Mengorok disebabkan oleh aliran udara yang ‘menabrak’ disebabkan penutupan parsial saluran napas, sehingga menimbulkan suara pada saat bernapas. Sering terjaga pada malam hari menyebabkan penderita mengantuk pada siang hari, kurang perhatian, konsentrasi dan ingatan terganggu. Pada anak kecil, biasanya gejala ini ditandai dengan prestasi belajar yang menurun, sedang pada orang dewasa ditandai dengan produktivitas kerja yang menurun. Di siang hari, penderita dapat tiba-tiba tertidur saat ia berada di lingkungan yang tenang. Dan saat terbangun, penderita akan merasa lebih lelah disbanding sebelum ia tidur. OSAS apabila belum menimbulkan apnea, jarang disadari sendiri oleh penderita, kecuali melalui keluhan bunyi mengorok yang dirasakan oleh orang lain yang tidur di dekat penderita.

Para ahli menetapkan suatu skor untuk mendiagnosa OSAS ini, yang dinamakan Apnea-Hypopnea Index (AHI). American Academy of Sleep Medicine mengklasifikasikan OSAS menjadi:

  • ringan (AHI 5-15)
  • sedang (AHI 15-30)
  • berat (AHI > 30)

Pemeriksaan fisik pada pasien yang diduga menderita OSAS difokuskan pada visualisasi faring termasuk uvula,  lidah, dan tonsil, inspeksi bentuk dan susunan tulang wajah, dan pemeriksaan tekanan darah. Selain itu perlu juga dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dilakukan di antaranya adalah Polysomnografi, EEG, EMG, EKG, EOG, rekaman video saat tidur, pulse oxymetri,dsb.

OSAS dapat disebabkan oleh karena faktor struktural dan non-struktural. Faktor struktural berhubungan dengan anatomi tulang wajah, di antaranya sebagai berikut:

  • Variasi anatomi bawaan (elongasi wajah, kompresi wajah bagian belakang)
  • Kelainan rahang, seperti retrognatia (rahang terletak lebih belakang daripada rahang normal) dan mikrognatia (rahang lebih kecil daripada normal)
  • Mandibular hypoplasia (kurang berkembangnya tulang mandibula)
  • Bentuk kepala Brachycephalic
  • Pembesaran kelenjar adenoid dan tonsil, terutama pada anak dan dewasa muda
  • Palatum (langit-langit mulut) letak tinggi,
  • Fraktur tulang wajah karena trauma daerah wajah, dsb.

Penelitian membuktikan bahwa abnormalitas pada struktur kepala dan wajah merupakan faktor yang penting dalam mekanisme terjadinya OSAS, terutama pada pasien non-obes  dan anak-anak.

Sedangkan faktor-faktor yang non-struktural di antaranya adalah sebagai berikut:

–       Obesitas

–       Distribusi lemak sentral

–       Jenis kelamin pria (hormon pria dapat menyebabkan perubahan struktur jalan napas bagian atas)

–       Usia

–       Kondisi post menopause

–       Penggunaan alkohol

–       Penggunaan obat-obatan sedatif

–       Merokok (menyebabkan peradanga, pembengkakan, dan penyempitan pada saluran napas)

–       Penyakit hipotiroid (kekurangan hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid)

–       Akromegali (keadaan yang disebabkan oleh karena kelebihan hormon pertumbuhan), dsb.

 Penatalaksanaan terhadap OSAS tergantung kepada masing-masing penyebabnya. Pada OSAS yang disebabkan karena faktor struktural, maka terapi yang diberikan biasanya berupa intervensi bedah. Sedangkan yang disebabkan non-struktural, biasanya diterapi dengan menggunakan medikamentosa, perubahan pola diet, maupun gaya hidup. Pada tiap kasus OSAS, penyebab tersebut bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, dan berbagai faktor lainnya. Nah, sekian pembahasan mengenai OSAS. Untuk selanjutnya, silakan dibaca lebih lanjut dari pustaka yang saya ambil, maupun sumber-sumber lain yang relevan.

 Maka, setelah kita membahas sekelumit dari OSAS, kepercayaan mengenai ‘ketindihan’ kembali pada masing-masing diri kita.  :)

Sumber:

  1. R Downey. Obstructive Sleep Apnea. Medscape reference. Updated: 29 Mar 2011. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/295807-overview#a0156
  2. SJ Swierzewski. Obstructive Sleep Apnea (OSA). Updated: 27 Sep 2010. Available from: http://www.sleepdisorderchannel.com/osa/index.shtml
  3. WW Flemons. Obstructive Sleep Apnea. The New ngland Journal of Medicine, vol. 347, no.7. 15 Agust. 2002. Available from: http://sleepds.com/PDF/Obstructive%20Sleep%20Apnea%20-%20Clinical%20Practice%20and%20Guidelines.pdf
  4. National Heart Lung and Blood Institute. Sleep Apnea. US Departement of Health and Human Services. Revised: Agust 2010. Available from: http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/SleepApnea/SleepApnea_WhatIs.html
  5. Bahan kuliah Prof. DR. Dr. Suprihati, Sp.THT-KL (K). Obstructive Sleep Apnea

2 thoughts on “‘Ketindihan’ atau OSAS?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s