Mau bergaul malah kecebur…


Kejadian ini saya alami saat masih di SD. Mmm… memang bukan kejadian yang menyenangkan untuk dikenang, tapi entah mengapa salah satu ingatan SD yang terkuat malah kejadian ini. Mungkin justru karena itulah menjadi memori. Mari kita mulai…

Suatu hari saat saya di kelas 6, beredar sebuah undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun salah seorang teman sekelas saya. Apa istimewanya? Ow, karena saat itu sudah lewat beberapa tahun sejak terakhir kali saya mendapat undangan dan menghadiri suatu pesta ulang tahun. Yang tentu saja pesta-pesta ulang tahun sebelumnya yang dulu saya hadiri adalah pesta ulang tahun “anak kecil” dalam benak saya, yang dirayakan dengan menyanyi bersama, balon, permainan-permainan anak kecil. Dan sekarang? Tentu saja kelas 6 SD yang merupakan kelas “tertinggi” bagi saya saat itu serupa dengan gerbang “ABG” yang kala itu memang ngetrend, akan jauh berbeda, karena menjadi tempat bergaul para “ABG”.

Begitu undangan didapat, segera setelah di rumah, ribut membongkar lemari, mencari-cari pakaian “pesta” ABG terbagus yang bisa saya pakai untuk Sabtu malam nanti. Tidak berhasil mendapat pakaian yang dimaksud di lemari baju sendiri, saya yang “ABG” langsung menelpon sang mama di kantor untuk meminjam pakaian milik sang mama. “Boleh, Kak (panggilan saya di rumah), cari aja di lemari mama”, sang mama menurunkan ijinnya. Setelah sekian tumpukan pakaian berantakan di atas kasur, akhirnya terpilihlah sepotong gaun milik sang mama yang dirasa cocok untuk dipakai ke pesta ulang tahun.

Selepas maghrib, selesai mandi, saya pun memakai pakaian yang sudah dipilih sambil mematut-matut diri di depan kaca. Gaun putih berenda-renda yang bertingkat dari atas hingga bawah, setinggi bawah lutut, yang sebenarnya jika sekarang dipikir-pikir, itu gaun kedodoran…😄. Dasar ABG, yang penting gaul dan keren pikir saya. Setelah merasa rapi jali, saya pun berangkat dengan naik becak. Padahal biasanya saya pakai sepeda kalau ke mana-mana. Tapi demi gaun putih kinclong itu, saya pun berbagi rejeki dengan abang becak.

Sesampai di depan pagar rumah teman saya yang berulang tahun itu, becak pun berhenti dan saya pun turun. Di depan rumah beberapa teman masih berdiri, melihat saya yang baru datang diantar becak, mengenakan gaun putih yang bukan tipe saya yang biasanya, mereka pun berseru, “wah, ciye Tyaa… suit,,suit….”. Haduh, pikir saya, biasa aja kenapa sih? Akhirnya saya berhasil mengalihkan perhatian dengan mengobrol topik lain. Sambil menunggu teman yang lain, kami masih belum berani masuk walaupun sudah diminta masuk oleh si empunya pesta. Akhirnya, karena hampir semua sudah datang,dan merasa tak enak bergerombol di depan pagar, satu per satu beranjak masuk setelah diminta masuk untuk kesekian kali. Saya yang merasa sangat bersemangat, menunggu di belakang teman-teman yang lain untuk berbaris masuk lewat pagar, mundur ke belakang,, mundur,,mundur… tidak sadar kaki kanan saya ternyata sudah tidak menginjak teras pagar! Dan apalah daya, hilang keseimbangan karena terlalu kaget, ternyata pula di bawah kaki kanan saya adalah selokan,,dan…”byurr..!!!”. Oh tidak… Dengan pucat pasi, lemas, kaki kanan yang sakit karena jatuh, gaun putih kinclong yang kini belang hitam karena air selokan,, pelan-pelan saya menguatkan diri untuk memanjat selokan dan naik ke teras. Beruntung hanya tinggal dua-tiga teman yang masih berada di luar dan melihat kejadian itu. Dengan malu dan ingin menangis, saya pun akhirnya terbata-bata minta tolong menyampaikan pamit dan kado yang saya bawa pada teman saya yang berulang tahun, dan langsung memanggil becak dekat situ untuk segera pulang.

Becak pun segera melesat meninggalkan lokasi menyedihkan itu, apalagi karena saya bilang, “ngebut Bang!”. Sampai di depan pagar rumah, sebelum turun dari becak, saya melihat teras rumah penuh dengan tetangga. Saya pikir, ada apa ini? Masa mereka tau kejadian yang saya alami terus mau menyambut (apa menyambit?) saya yang sedang memalukan begini…? Setelah kebingungan, mengingat-ingat, dan..ups…saya lupa malam ini juga ada arisan RT yang bertempat giliran di rumah saya!! Waduh, mati saya, pikir saya, tambah malu beribu-ribu kali ini. Akhirnya sebelum ada tetangga melihat, saya pun meminta becak memutar lewat gang belakang yang menyambung ke pintu belakang rumah saya. Untungnya tak ada tetangga yang lewat, setelah membayar, saya langsung kabur masuk lewat pintu belakang. Dan alamak,,, sang mama berdiri di dapur, memegang piring makanan dan melihat kemunculan saya yang “aduhai” dengan gaun milik beliau yang saya pinjam, ternganga,  “kenapa, Kak,, kok…?”

— (~_~’) —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s