Mantan murid yang mencoba mengajar

Mantan murid. Itulah diri saya. Setinggi apapun sekolah, tetap menyandang status sebagai seseorang yang pernah menjadi murid: mantan murid. Ya mantan. Mantan murid TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah. Sebagai seseorang yang pernah menjadi murid dalam waktu cukup lama, kiranya saya cukup paham dengan keinginan dan harapan seorang murid terhadap orang yang mengajarnya, entah itu guru ataupun dosen.

Sebagai mantan murid, saya akan sangat senang sekali dengan pelajaran ataupun kuliah yang tidak monoton. Saya yang cepat bosan dan seringkali cepat mengantuk dengan suasana yang itu-itu saja, akan lebih senang dan bersemangat mengikuti pelajaran dengan inovasi-inovasi baru, dengan permainan, dengan tantangan, dengan penerapan media teknologi terbaru, dengan cerita kontekstual, dengan imajinasi, dengan komparasi ekstrem, dengan kreativitas, dan metode-metode semacamnya. Saya yang sering terpengaruh suasana keakraban dengan pengajar, menyukai mereka yang sangat open dalam mengajar, bersahabat, memahami isu-isu terkini yang beredar di kalangan kami sebagai murid (bukan berarti gosip), gaul, ramah dan humoris, responsif dan bukan reaktif, hangat, serta sabar. Karena dengan begitulah kami murid tak akan segan pun malu bertanya, tak kan takut mengutarakan pendapat, tak kan ragu memeras girus-girus otak untuk berpikir dan berkreasi lebih. Saya yang pernah menjadi murid yang sering pula bermasalah, mengharapkan pengajar yang memiliki usus sangat panjang dan hati seluas samudera, untuk bersabar dengan latensi dan retensi fleksibilitas otak yang memerlukan waktu ekstra. Orang yang pula memiliki semangat memotivasi dan menginspirasi, supaya saya teguh mendobrak kungkungan pesimisme dan mengubahnya menjadi kereta cepat optimisme, agar bangkit tiada menyerah.

Kini, mantan murid ini mencoba menempuh jalur mereka yang dulu mengajar si murid. Meski sepanjang jalan kenangan sekolah belum pernah saya memimpikan menjadi pengajar. Pada kenyataannya, hari ini, saat ini, saya si mantan murid, sedang mencoba menjadi si pengajar. Baru hampir genap 4 tahun lamanya. Baru setahun lebih lama dibanding profesi satunya sebagai perantara penyembuh orang sakit. Lucunya, mantan murid yang sedang mencoba mengajar ini, sering kali lupa dengan apa yang dulu diharapkannya pada diri orang yang mengajarnya. Jika tiba saat mengingat apa yang pernah dialami dahulu kala, terkadang saya pun tertawa dan berujar, “Ah, inilah saya dahulu sebagai murid”. Jika datang kenangan yang dibandingkan dengan saat ini, timbul kegeraman yang sulit memaklumkan apa yang diperbuat si murid. Sehingga sering membuat saya bersumbu pendek. Meledak. Padahal seharusnya saya mengingat pengharapan-pengharapan saya kepada pengajar saya dahulu kala. Beruntungnya, kepala si mantan murid ini layaknya mesin pengatur siklus suhu berkecepatan super: cepat panas namun cepat mendingin. Hingga segera timbullah rasa empati saya, meski dengan alasan-alasan yang kadang dipaksakan. Apa salahnya memberi kesempatan.

Mantan murid ini, masih terus mencoba mengajar. Meski dengan kendala dan masalah-masalah berbeda dari yang dulu. Meski dengan pahit manis lucu getirnya mengajar murid-murid generasi baru, si mantan murid masih mencoba bertahan. Ada kepuasan tersendiri baginya, ketika yang diajar bisa memahami dan berhasil dengan apa yang diajarkannya. Meski ilmu si mantan murid ini masihlah kalah jauh jauh dan jauh dari para pengajar-pengajar lainnya yang lebih baik, namun ia tetap terhibur. Meski waktu ekstra, perhatian ekstra, tenaga ekstra harus selalu siap dicurah, si mantan murid masih dapat menerima kado istimewanya sendiri. Penghiburan terbaik yang diyakini si mantan murid ini untuk tetap dapat istiqomah adalah: Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amal jariyah yang takkan pernah putus pahalanya kelak bagi si mantan murid. Meski si mantan murid telah berada jauh di dalam timbunan tanah kubur. InsyaAllah. Aamiin…

__ILoveTeaching__120418

Advertisements

Laut yang berdamai dengan sungai

Manakala sungai menemukan jalan. Sungai mengalir membentuk anakan-anakan sungai. Lebar maupun sempit, namun air tetap menemukan celah.

Ke mana lagi sungai bersambut, bila bukan laut tempat terpaut? Di mana lagi sungai ternaung, jikalau tiada laut yang menampung?

Seganas apapun laut mendebur, tangannya terbentang menyambut si sungai. Takkan mungkin air tercerai. Laut tidak membunuh sungai dan sungai takkan berpaling dari laut. Kerasnya ombak laut tak membanjiri sungai dan tebalnya lumpur sungai takkan menodai laut.

Suatu ketika sungai meluap terbanjiri limpahan air yang tiada hentinya dan tercipta laut baru. Namun tak perlu lama gundah nan keduanya terisi air. Elemen air. Mengalir, mengisi setiap ruang, menyapu, membersihkan, … bersama tercampur dan saling terpahami. Tiada perlu laut baru dari sungai terisi ragu dan kesungkanan. Tak akan laut lama bermurka pun bermuram. Laut lama kan menyambut laut baru. Karena laut senantiasa berdamai dengan sungai.

__Rindu Laut__110418

Tulisan ngalor-ngidul part 5: What is this

Write it down, or it’ll be forgotten, erased, faded away.

image

The problem is, when the inspiration is coming in, I am in the middle of not being able to write it. Usually it comes out like that.
Then, when my pen is in my hand, or my laptop/gadget is ready to recorde anything my head is thinking, I simply become blank, no idea anymore.
The cycle is always like that. At the end, I have nothing to be written, to be recorded, to be remembered. My blog is again,, untouched, , for a very long time.
Even now, I have no idea about what I’m writing about,,, just to update the blog, so people know it’s not dead..yet… Ahaha…
Jeezzz, what is this.. Dunno know what I’m blabbering right now.
Just to remind me of what people said to me long time ago (I don’t remember when):

Rien n’arrive par accident

Actually, I’m eager to write about something more important, more valuable to share. But,,, may be later, I’ll do it.
For now, that’s all. Ok.

Before I quit, I’d like to say, “Happy sunday night!!!” ^o^

Don’t put your mind at hard time just because tomorrow is monday. Semangat, semangaaat! Have a blessed weekday! Bon courage et bonne semaine à tous !!!  *cheering my self*

_sunday_so many things to do_
_vais-je! je dois bouger!_

Posted from WordPress for Android

I’m ready to commute!

“9 Bulan…ibu mengandung.. dan melahirkan kita ke dunia…~~”.. Mungkin ada yang ingat lagunya Dea Ananda zaman baheula tentang surga di telapak kaki ibu? Kangen yah, dengan zaman 90-an di mana menjadi anak kecil pada saat itu kelihatannya begitu sederhana namun amat bahagia…. *langsung nostalgila*

Stop! Nah, isi tulisan kali ini sama sekali tidak berhubungan dengan lagunya Dea Ananada tadi, kecuali kata ‘9 bulan’nya saja. Hehe… So, ada apa dengan 9 bulan?

Continue reading

Cinta dalam kerja

Mencoba memejamkan mata dengan rambut basah tergerai ke bantal. Sementara AC setia menyala. Tarik selimut sampai ke dagu. Tetap saja no hasil. Padahal tadi sewaktu mengepak koper, mata ini beratnya minta ampun. Efek mandi memang luar biasa.. Bagaimana kalau kita berbincang sedikit tentang pekerjaan? Kenapa pekerjaan? Karena akhir-akhir ini yang rajin memberi sy kegalauan adalah si dia. Pekerjaan.

Dulu, sewaktu saya masih muda, ada yang pernah menanyakan apa yang mau saya raih dan kerjakan di kemudian hari. Ingin menjadi apa saya kelak. Kemudian beliau memberi nasihat agar sy menjadi orang yang mencintai apapun yang dikerjakan, apapun profesinya, alih-alih mengerjakan apa yang sy cintai. Lho? Apa bedanya? Dulu sy tidak paham benar maknanya. Sekarang berbeda. Dulu sy tak melihat mengapa seseorang tidak bisa mengerjakan semua yg dicintainya. Sekarang sy tahu bahwa tidak semua orang memiliki peruntungan yg bagus untuk mengambil apa-apa yang dicintainya sebagai pekerjaannya. Dulu sy gagal paham mengapa mencintai suatu pekerjaan (yg lebih kurangnya dipilih oleh orang itu sendiri) adalah hal yg sulit dilakukan. Sekarang sy mengerti bahwa memilih pekerjaan tidak selalu sejalan dengan keinginan dan memberikan cinta terhadap apa yang dikerjakan itu membutuhkan keikhlasan, komitmen, dan kemauan yang keras terutama dalam menyingkirkan ego pribadi.

Jadi..? Apa kesimpulan renungan malam ini, Ty? Tiap tulisan yang baik harus ada kesimpulannya dong. Take home message bagi pembaca.
Baiklah, kesimpulannya, ternyata sy sama sekali belum mencintai apa yang sy kerjakan. Bagaimana dengan sobat pembaca? Sy harap lebih baik dari keadaan sy. Jadi..? Mari bersihkan niat, Ty, mulai kembali dengan cinta. Semoga, sungguh sy berharap semoga, kegalauan itu akan berakhir, dan pekerjaanmu bernilai ibadah.. Aamiin..

Good night, sleep tight, may He embrace us till better tomorrow rise up. 🙂

Apalah arti sebuah nama

Hello world!

Lama nian saya tak menulis. Aduh kasihan blog ini ga diupdate. Ke mana larinya janjimu untuk menulis tiap bulan sekali Tya?? Hadeeeh..
Oke. Untuk penyegaran, karena lama ga menulis, jadi saya isi topik kali ini dengan yang ringan-ringan sajo.

Jadi begini, alkisah ceritanya semasa SMA dulu, saya sedang gandrung-gandrungnya melihat dan membaca-baca arti dari nama. Setelahnya tentu saja saya tergoda untuk menyusun-nyusun nama yang diperuntukkan bagi anak-anak saya kelak (ciyeh suit suiit.. 😘). Dari mulai anak pertama, kedua, anak kembar, cewe, maupun cowo, sudah disiapkan. Jadi nanti ga perlu pusing-pusing lagi and pe-er saya tinggal nikah, hamil, and ‘brojol’nya aja yang belom, wkwkwk. 😄

Continue reading