Tulisan ngalor-ngidul part 5: What is this

Write it down, or it’ll be forgotten, erased, faded away.

image

The problem is, when the inspiration is coming in, I am in the middle of not being able to write it. Usually it comes out like that.
Then, when my pen is in my hand, or my laptop/gadget is ready to recorde anything my head is thinking, I simply become blank, no idea anymore.
The cycle is always like that. At the end, I have nothing to be written, to be recorded, to be remembered. My blog is again,, untouched, , for a very long time.
Even now, I have no idea about what I’m writing about,,, just to update the blog, so people know it’s not dead..yet… Ahaha…
Jeezzz, what is this.. Dunno know what I’m blabbering right now.
Just to remind me of what people said to me long time ago (I don’t remember when):

Rien n’arrive par accident

Actually, I’m eager to write about something more important, more valuable to share. But,,, may be later, I’ll do it.
For now, that’s all. Ok.

Before I quit, I’d like to say, “Happy sunday night!!!” ^o^

Don’t put your mind at hard time just because tomorrow is monday. Semangat, semangaaat! Have a blessed weekday! Bon courage et bonne semaine à tous !!!  *cheering my self*

_sunday_so many things to do_
_vais-je! je dois bouger!_

Posted from WordPress for Android

Advertisements

I’m ready to commute!

“9 Bulan…ibu mengandung.. dan melahirkan kita ke dunia…~~”.. Mungkin ada yang ingat lagunya Dea Ananda zaman baheula tentang surga di telapak kaki ibu? Kangen yah, dengan zaman 90-an di mana menjadi anak kecil pada saat itu kelihatannya begitu sederhana namun amat bahagia…. *langsung nostalgila*

Stop! Nah, isi tulisan kali ini sama sekali tidak berhubungan dengan lagunya Dea Ananada tadi, kecuali kata ‘9 bulan’nya saja. Hehe… So, ada apa dengan 9 bulan?

Continue reading

Cinta dalam kerja

Mencoba memejamkan mata dengan rambut basah tergerai ke bantal. Sementara AC setia menyala. Tarik selimut sampai ke dagu. Tetap saja no hasil. Padahal tadi sewaktu mengepak koper, mata ini beratnya minta ampun. Efek mandi memang luar biasa.. Bagaimana kalau kita berbincang sedikit tentang pekerjaan? Kenapa pekerjaan? Karena akhir-akhir ini yang rajin memberi sy kegalauan adalah si dia. Pekerjaan.

Dulu, sewaktu saya masih muda, ada yang pernah menanyakan apa yang mau saya raih dan kerjakan di kemudian hari. Ingin menjadi apa saya kelak. Kemudian beliau memberi nasihat agar sy menjadi orang yang mencintai apapun yang dikerjakan, apapun profesinya, alih-alih mengerjakan apa yang sy cintai. Lho? Apa bedanya? Dulu sy tidak paham benar maknanya. Sekarang berbeda. Dulu sy tak melihat mengapa seseorang tidak bisa mengerjakan semua yg dicintainya. Sekarang sy tahu bahwa tidak semua orang memiliki peruntungan yg bagus untuk mengambil apa-apa yang dicintainya sebagai pekerjaannya. Dulu sy gagal paham mengapa mencintai suatu pekerjaan (yg lebih kurangnya dipilih oleh orang itu sendiri) adalah hal yg sulit dilakukan. Sekarang sy mengerti bahwa memilih pekerjaan tidak selalu sejalan dengan keinginan dan memberikan cinta terhadap apa yang dikerjakan itu membutuhkan keikhlasan, komitmen, dan kemauan yang keras terutama dalam menyingkirkan ego pribadi.

Jadi..? Apa kesimpulan renungan malam ini, Ty? Tiap tulisan yang baik harus ada kesimpulannya dong. Take home message bagi pembaca.
Baiklah, kesimpulannya, ternyata sy sama sekali belum mencintai apa yang sy kerjakan. Bagaimana dengan sobat pembaca? Sy harap lebih baik dari keadaan sy. Jadi..? Mari bersihkan niat, Ty, mulai kembali dengan cinta. Semoga, sungguh sy berharap semoga, kegalauan itu akan berakhir, dan pekerjaanmu bernilai ibadah.. Aamiin..

Good night, sleep tight, may He embrace us till better tomorrow rise up. 🙂

Apalah arti sebuah nama

Hello world!

Lama nian saya tak menulis. Aduh kasihan blog ini ga diupdate. Ke mana larinya janjimu untuk menulis tiap bulan sekali Tya?? Hadeeeh..
Oke. Untuk penyegaran, karena lama ga menulis, jadi saya isi topik kali ini dengan yang ringan-ringan sajo.

Jadi begini, alkisah ceritanya semasa SMA dulu, saya sedang gandrung-gandrungnya melihat dan membaca-baca arti dari nama. Setelahnya tentu saja saya tergoda untuk menyusun-nyusun nama yang diperuntukkan bagi anak-anak saya kelak (ciyeh suit suiit.. 😘). Dari mulai anak pertama, kedua, anak kembar, cewe, maupun cowo, sudah disiapkan. Jadi nanti ga perlu pusing-pusing lagi and pe-er saya tinggal nikah, hamil, and ‘brojol’nya aja yang belom, wkwkwk. 😄

Continue reading

EMERGING CHEATING CULTURE: WHAT CAUSES STUDENTS TO CHEAT?

Cheating while taking an examination is the most common thing happens during student’s life. Everybody must have any experience of cheating at least once, even just an attempt or intention to do it, when they were students at any level of education. If they are asked whether they know that cheating is morally wrong, almost all of them would say yes. Nevertheless, they still do that in many ways; even cheating becomes an art or culture between students. Thus, what kinds of reasons are there, which make them decide to cheat, voluntarily or forcedly? This essay will explore the causes lining behind the cheating action during examination. Continue reading

Hidup bersama, cegah (penyakit) bersama

Kasus pemidanaan dokter, RS, dan nakes yang dianggap ‘menolak’ pasien dengan alasan apapun mungkin sudah sering didengar oleh sebagian besar dari pembaca sekalian. Adanya berbagai jaminan kesehatan/ asuransi kesehatan pemerintah yang katanya akan ‘menanggung’ biaya pasien (rawat inap) mengakibatkan berbagai hal diantaranya peningkatan jumlah pasien yang datang berobat yang seringkali melebihi kapasitas RS/nakes. Sakit ini minta rawat, sakit itu minta rujuk supaya dapat memanfaatkan jaminan2 kesehatan yg digembar-gemborkan, padahal mungkin sebagian di antaranya tidak memenuhi indikasi rawat inap.

Saya setuju dengan prinsip jaminan kesehatan yang diterapkan pemerintah, tapi kecewa dengan penerapan pada realitasnya. Pertama karena pemerintah sendiri belum mempersiapkan dengan sebaik-baiknya sistem untuk mendukung kebijakan yang telah dibuatnya. Hutang pemerintah terhadap RS-RS banyak yang belum terbayar, dukungan fasilitas kesehatan masih kurang, dsb. Lantas bagaimana suatu layanan kesehatan bisa beroperasi dengan baik? Dari mana uang untuk pengadaan obat-obatan bagi pasien, alat-alat dan fasilitas yang dibutuhkan,,, apakah turun begitu saja dari langit ketujuh?

Continue reading