Jampersal — Realitas dalam Pelayanan Kesehatan Dasar


Bagi sebagian orang, mungkin jampersal adalah kata yang masih asing. Jampersal yang merupakan kependekan dari Jaminan Persalinan, adalah salah satu program yang dikeluarkan oleh pemerintah — dalam hal ini adalah kementerian kesehatan — dalam upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), menuju Millenium Development Goal’s (MDG’s) 2015. Mengapa AKI dan AKB ini penting? Karena AKI dan AKB merupakan salah satu indikator dari derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan yang dimaksud dengan Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR)adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertent.

Dalam Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009, menurut Badan Pusat Statistik, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) periode 2003-2007 menunjukkan AKB sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup, dan AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 dikatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 237.556.363. Dari angka tersebut bisa dibayangkan seberapa banyak terjadinya kematian ibu dan bayi setiap tahunnya di negara kita. Menurut data Kemenkes, 90% kematian ibu disebabkan karena persalinan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena menemui kendala dalam hal biaya.

Oleh karenanya, kemudian pemerintah mengeluarkan suatu program Jampersal, di mana inti dari program Jampersal ini merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB. Dalam hal ini kementerian kesehatan akan menjamin seluruh biaya pengobatan bagi wanita hamil dan  melahirkan, sepanjang mereka melahirkan di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan RS pemerintah kelas 3), maupun fasilitas kesehatan swasta (misal Bidan Praktek Swasta) yang telah mendandatangani perjanjian kerjasama.

Pelayanan Jampersal ini tidak hanya berupa pelayanan sebatas proses persalinan saja, tapi juga meliputi pemeriksaan kehamilan ante natal care (ANC), pemeriksaan post natal care (PNC) dan nifas, serta pelayanan Keluarga Berencana setelah melahirkan oleh tenaga kesehatan.

Program jampersal ini memiliki perbedaan dengan program jamkesmas. Bila jamkesmas hanya diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi lemah, maka jampersal ini diperuntukkan bagi semua ibu hamil/bersalin tak terkecuali masyarakat mampu.

Menilik beberapa bulan setelah berjalannya program ini, ternyata banyak hal perlu dievaluasi. Meskipun sy tak suka membicarakan politik ataupun sistem pemerintahan, namun kondisi lapangan membuat sy ingin sedikit berbagi. Berdasarkan SK Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dijelaskan bahwa singkatnya dana untuk jampersal akan diberikan pada dinas kesehatan kabupaten/kota secara bertahap untuk kemudian diteruskan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang telah memberikan pelayanan jampersal pada ibu hamil/bersalin. Sehingga secara teknis, pelayanan ini diberikan secara cuma-cuma pada para ibu hamil/bersalin yang telah mendaftar sebagai peserta jampersal. Hakikatnya kemudian penggantian biaya ini akan dibebankan pada pemerintah daerahnya (dinkes kota/kabupaten).

Namun pada kenyataannya, dana jampersal yang telah dianggarkan ini entah mengapa sulit ‘keluar’ dan seringkali telat, sehingga membuat pihak fasilitas pelayanan kesehatan harus menanggung ‘biaya’ ini. Beberapa RS yang memiliki cukup ‘tabungan’ mungkin masih dapat menanggungnya, namun kebanyakan pemberi fasilitas pelayanan kesehatan swasta merasa terbebani dengan hal ini. Jampersal ini juga menuai banyak protes dari para bidan praktek swasta dalam segi anggaran yang diberikan, di mana biaya persalinan seorang ibu hamil dipatok Rp350.000,-. Anggaran ini dirasakan kurang, sehingga pihak-pihak pemberi fasilitas pelayanan kesehatan dasar swasta yang seharusnya dapat melayani jampersal, kemudian sering merujuk para ibu bersalin peserta jampersal ini dengan berbagai ‘alasan’ merujuk kepada pihak pelayanan kesehatan pemerintah, meskipun alasan tersebut diada-adakan. Sebagai akibatnya, tmpat-tempat pelayanan kesehatan masyarakat milik pemerintah seperti puskesmas, RSUD, dsb.,kemudian dibanjiri para peserta jampersal. Sedangkan beberapa RS ataupun tempat pelayanan kesehatan, dikarenakan anggaran yang sulit ini, kemudian menjadi kurang mensosialisasikan adanya program jampersal ini. Hal ini, dibuktikan oleh penuturan beberapa ibu bersalin yang mengakui bahwa dirinya masih membayar saat melahirkan dan belum mengetahui adanya program ini.

Dari sisi budaya dan latar belakang masyarakat pun, jampersal juga menemui kendala. Di sebagian masyarakat khususnya masyarakat desa terutama yang terpencil ataupun yang menganut budaya yang kuno dan ketat, ada suatu kepercayaan bahwa ibu hamil yang bersalin tidak di rumahnya sendiri (yang berarti dibantu dukun beranak/paraji/paling ‘banter’ adalah bidan), yang berarti ibu-ibu yang melahirkan di puskesmas/oleh dokter/di RS, apalagi melalui operasi, ibu-ibu tersebut akan dipandang sebagai ibu yang lemah oleh masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka lebih percaya pada dukun dan lebih memilih melahirkan di rumahnya meskipun telah ada jaminan persalinan gratis dari pemerintah. Dan pada realitas, meskipun kemudian persalinan mereka mengalami ‘komplikasi’ ataupun mengakibatkan suatu kerugian, kebanyakan dari mereka tetap membela dukun-dukun tersebut. Hal ini patut mendapat perhatian pemerintah, di mana edukasi dan penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan hal yang tetap penting untuk dilakukan seiring program-program kesehatan yang telah dibuat, mengingat kita tinggal di negara yang memiliki berbagai kebudayaan.

Jampersal, secara ringkasnya adalah suatu program yang baik dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Namun, untuk ke depannya, berbagai hal perlu dievaluasi dan diperbaiki dari program ini agar dapat berjalan seperti tujuan awalnya. Tetap semangat pada pemerintah, demi memajukan derajat kesehatan NKRI tercinta!!:)

About these ads

About aytseira

Ordinary human, fond of chocolate, books' maniac, blog walker, general practitioner, and one of your friends ^___^

Posted on 10 August 2011, in Medical and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

duniamuam

melihat dunia dari sisi berbeda

Muslimah Indonesia In Korea

Meraih kebahagiaan muslimah di Negeri Ginseng

ayyunie's Blog

Menulislah...Berbagilah.. :)

Lubang Cacing

The Road Less Travelled

Catatan Perkembangan

A Progress Note of A Lifetime Learner.

catatan Nidal

tentang Nidal. tumbuh kembang. pengasuhan. kesehatan.

Ransel Butut

its about backpacker traveler .. enjoy my journey :)

Day dreamer's Blog

Ordinary blog from ordinary person who wants to be extraordinary...

PPI Poitiers

Kamilah warga Indonesia di Poitiers...

C'est ma vie

it's my life, my chance, my destiny

101 Books

Reading my way through Time Magazine's 100 Greatest Novels since 1923 (plus Ulysses)

blackaholicnee

an anesthesiology resident, a traveler, a cheese lover, a dream chaser...

Satriaperwira's Weblog

"Our greatest glory is not in never falling, but raising in everytime we fall"

hananikaru

untuk rehat. sejenak.

Aqilaa.com

clinic | cookink | corner | @lemariaqilah

PICKY EATERS AND GROW UP CLINIC

How To Easy Picky Eaters and Failure To Thrive Problems In Children, Teen and Adult.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,244 other followers

%d bloggers like this: